1.9.15

DAISY dan DEISY

     Dahulu kala saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar, saya sering merasa risih dengan nama saya. Penulisan nama saya seharusnya “DEISY”, tapi entah kenapa saat itu saya merasa nama itu agak sedikit lebay. Ya mungkin karena pengucapannya agak kebarat-baratan gitu ya, 11 12 lah sama “DAISY”.  DAISY diterjemahin ke Bahasa Indonesia menjadi DEISY. Ya katakan sajalah begitu. OK, jadinya saya melakukan reformasi kecil-kecilan terhadap nama itu. Tiap ulangan, tiap nulis nama di buku atau apa aja yang butuh menuliskan nama, saya ubah nama saya menjadi  DESSY. Well, Indonesia banget. Padahal jelas nama itu beda sama birth certificate saya. Barangkali juga karena saya ga suka jadi pusat perhatian, jadi saya pengen nama yang pelafalannya common aja seperti orang Indonesia pada umumnya,  ga perlu kebarat-baratan. Lebay juga saya waktu itu. Haaaa
  Pas masuk SMP, ternyata  banyak banget siswa yang namanya DESY,DESI,DESSY,DESSI, dan versi-versi  lainnya, yang kalo dilafalin tetep sama bunyinya empat huruf D E S I. What? Duh saya yang mulai beranjak remaja dan sedang mencari jati diri waktu itu, tiba-tiba merasa risih lagi. Koq pasaran banget, gimana dong biar beda. Ternyata di masa ini saya pengen beda, ga mau sama kayak orang kebanyakan. Well, akhirnya saya balik lagi ke asal muasal nama saya, yang kalau dibaca agak kebarat-baratan gitu. DEISY. Jadi kalau dilafal ga Cuma 4 huruf DESI, tapi 5 huruf DEISY, ada I nya di tengah.  Akhirnya beda sama DESI-DESI pada umumnya. Sampai sekarang setelah saya menemukan jati diri, saya tetap menggunakan DEISY. Hahahaha
      Orang tua saya ga pernah jelasin kenapa saya dikasih nama kayak gitu. Tapi asumsi saya, karena saya lahir di bulan Desember. Jadi biar ga susah-susah, DEISY aja. Ya ada unsur-unsur Desember gitu.  Entah iya entah ga, sampai sekarang ga bisa saya klarifikasi ke orang Tua.  Tapi suatu waktu saat saya ada di Negeri Singa, ada kayak gini neh :

Saya kemudian teringat akan sejenis bunga yang oleh Westerners disebut "DAISY". Kalau dalam bahasa Indonesia sih diterjemahin Bunga Aster. Tapi ternyata setelah saya googling kanan kiri , DAISY tu salah satu species dari kelompok aster-asteran ( Asteraceae family). Jadi DAISY tu beda sama bunga aster di Indonesia. Karakterisik utama DAISY  tu bentuknya seperti bunga matahari, tapi kecil. umumnya berwarna putih yang terdiri dari lima petal masing-masing barisnya, yang mengelilingi lingkaran berwarna kuning di tengahnya. Kayak gini penampakannya : 

      DAISY  mudah hidup dimana saja dan sangat cepat pertumbuhannya. DAISY bisa tumbuh dengan cepat bahkan di tanah yang kering. Oleh karena itu banyak orang yang menyukai bunga ini untuk menghiasi halaman rumah. Nah, sebutan DAISY  oleh westerners tu ternyata plesetan dari  "Day's Eye". Kenapa sebutan Day's Eye? Karena bunga ini selalu mekar saat matahari terbit, dan akan menguncup lagi saat matahari tenggelam. DAISY dalam bahasa latin disebut Bellis Perennis. Bellis artinya cantik/manis dan Perennis artinya kekal/abadi. Bunga ini memiliki periode hidup yang cukup lama hingga mahkota bunganya  gugur. Bahkan beberapa jenis DAISY biasanya diawetkan dengan cara dikeringkan sehingga tahan sangat lama. DAISY sendiri oleh westerners melambangkan purity and innocence karena biasa bunga ini dikaitkan dengan anak-anak.

       Well, itulah characteristic and meaning dari DAISY. Jadi jangan heran kalau karakter saya ga jauh beda sama bunga ini. Bisa hidup di mana saja, dan bisa bertumbuh dengan cepat. Hey, saya mau bilang kalau ternyata nama kita itu berpengaruh terhadap karakter pribadi kita. Ucapan apalah arti sebuah nama sepertinya harus ditinjau ulang deh. Salam manis dari DEISY. 


Sumber :
https://en.wikipedia.org/wiki/Bellis_perennis#cite_note-10
http://en.canadianflowerdelivery.com/flower-meaning/daisy.aspx

27.8.15

09 Desember untuk Kanaya

          Dentingan nada komposisi Canon D gubahan Bethoven mencapai pusat saraf pendengaran Kanaya. 30 detik kemudian ia sadar itu bunyi ringtone hpnya yang entah berada di mana. Masih dengan mata tertutup, tangannya menelusuri  bagian-bagian ranjang yang bisa digapainya. Sekali lagi hp itu berbunyi dan getarannya mengagetkan Kanaya yang ternyata sejak semalam meletakan benda mungil itu dalam saku piyamanya.
           “Ayah”!  Display layar hpnya menunjukkan siapa si penelpon pagi ini. Belum sempat Kanaya menjawab, alunan nada Canon D berhenti.  Mata Kanaya menelusuri layar hpnya memastikan pukul berapa sekarang. Jam analog di sudut layar hpnya menunjukkan pukul  05.30. “Masih terlalu pagi untuk ditelpon Ayah”, batin Kanaya. “Ada apa gerangan?”  Jari-jari Kanaya langsung mencari kontak ayahnya di daftar kontak hp. Namun, baru saja Kanaya hendak menekan tombol dial, layar hpnya kembali menujukkan nama “Ayah”.
“Hallo, selamat pagi Yah”, jawab Kanaya.
Tak ada balasan dari ujung telepon sana.
“Hallo, Yah”, ulang Kanaya lagi.
“Ayah dengar?” tanya Kanaya yang sebenarnya mempertanyakan jaringan telepon yang sepagi  ini sudah bermasalah. Hening sejenak, Kanaya menunggu tanpa berniat memutuskan sambungan telpon dengan ayahnya. Tiba-tiba dari ujung telepon itu terdengar isak tangis tertahan. Ada suara terbata-bata yang mencoba mengatakan sesuatu namun tertahan suara tangis yang enggan disuarakan. Kanaya kalut. Kecemasan mulai merambat menjalari seluruh sel tubuhnya. Ya, sejak berita kematian ibunya yang dikabarkan melalui hp, Kanaya sedikit trauma dengan benda mungil ini. Kanaya bahkan selalu menonaktifkan hpnya saat hendak memejamkan mata. Dia terlalu takut akan kemungkinan mendengar berita serupa lagi melalui hp.
             Lambat laun suara di ujung telepon itu terdengar jelas.  Tampaknya sang Ayah sudah mampu menguasai diri.  Tak begitu halnya dengan Kanaya. Cemas dan gelisah masih menghantuinya.
“Hallo, Yah”, Kanaya kembali mencari jawaban sang Ayah.
“Nak”, suara lemah itu sampai di pendengaran Kanaya.
“Iya, Yah”, jawab Kanaya.
“Selamat Ulang Tahun, Nak”, ucapan itu disertai isak tangis sang Ayah.
Kanaya terdiam sejenak dan mencoba mencerna ucapan Ayahnya. Kanaya bahkan hampir lupa jika hari ini adalah hari ulang tahunnya. Dia terlalu sibuk dengan semua tugasnya hingga ia lupa pagi ini adalah tanggal 09 Desember.  Ada pilu yang tiba-tiba menyentil dinding hatinya.
             Biasanya ada sepasang suara yang mengucapkan selamat ini. Tapi, pagi ini hanya tersisa satu suara berat berwibawa bernada duka. Isak tangisnya yang menyertai ucapan selamat, jelas bertutur tentang rasa kehilangannya. Kehilangan suara merdu sang isteri tercinta yang baru 2 bulan lalu kembali ke TuhanNya. “Terima Kasih, Yah”, ucap Kanaya disertai butiran bening yang mengaliri pipinya. 09 Desember pagi ini terasa berbeda, tanpa selamat dari sang Bunda.


#09122008

17.8.15

Sepotong Hati di 17 Agustus

17 Agustus 2015
70 Tahun sudah Indonesia merdeka..
Tapi sampai  di detik  17 ini, aku masih terjajah..
Terjajah perasaan sendiri..
Bodoh? Sepertinya begitu..

Sebentar..
Ku ingat  17 Agustus di tahun kemarin..
Ah.. bunga-bunga asmara merah putih sedang bermekaran di hati ku..
Kuncup-kuncupnya mulai tumbuh.. perlahan..tapi pasti..
Sang merah putih nampak berkibar indah..
Di ujung tiang hati ku pun.. kasih itu kau kibarkan..
Indah.. nampak kokoh di ujung sana..

Kemudian.. sepertinya aku keliru..
Mungkin aku salah membaca taktik..atau aku salah membuat langkah..
Ku akui..aku pejuang muda.. pengalaman perang ku kurang..
Darah muda ku membuat ku bergelora..
Gelisah..Gegabah..Tak Sabar..
Dengan emosi.. ingin ku raih kemerdekaan ku..
Kemerdekaan ku memiliki mu..
Tapi..
Kau pergi.. tinggalkan pejuang muda ini..
Gelisah..
Kuncup-kuncup merah putih di hatinya mulai mengering..
Satu-persatu mahkotanya gugur jatuh ke tanah..
Kau berlalu..tanpa kata terucap..
Seakan-akan menghilang dalam pekatnya debu perang..
Dan  pejuang muda ini..masih dengan perasaan yang berdarah..
Terseok-seok mencari perlindungan..
Berusaha bangkit..meskipun sakit..
Berjuang untuk tetap hidup..

Hei, Kau Penjajah hati ku..
Kau yang  17 Agustus tahun kemarin ku sebut kekasih..
Mengapa kau kembali?
Dengan seribu satu alasan kau datang lagi pada ku..
Ingin rasanya ku teriak di hadapan mu..
“Tak ingatkah kau darah yang kau tumpahkan dari luka hati ini?”
Sepertinya kau tak ingat.. bahkan kau mungkin tak tahu..
“Apakah kau tak sadar semua yang kau lakukan mengoyak lagi luka ini?”
“Harusnya kau tak perlu kembali, wahai kekasih penjajah hati ku..”
Tapi kenapa kau kembali?

Tunggu..ingin ku ingat walau perih..
“Kenapa ga lurusin rambut saja? Pasti lebih bagus kalau lurus”
“Ah males, ga suka rambut lurus”
Dua minggu kemudian kutu pun akan terpeleset saking lurusnya rambut wanita ini..
Dia ingin nantinya sang kekasih senang dengan penampilan sesuai keinginan sang kekasih..
Sepertinya ini lebih cocok untuk kekasih ku. Dia pernah bilang sesuai tes bakat minat, dia cocok jadi motivator. Ku tulis saja namanya.”  
Penampilan baru..dan hadiah kecil itu.. demi bertemu kau penjajah hati ku..
Tapi..
Yang tersisa hanya air mata saat ku melangkah di kota seribu pintu itu..
Pejuang muda ini kau tikam, wahai kekasih penjajah hati..
Tepat di kuncup-kuncup merah putih yang mulai bermekaran..
Ya.. berdarah..

Lalu..
“Kau bilang dia sahabat dekat, yang ada saat kau down”.
Ya.. aku.. pejuang muda ini memang tak pernah berjuang di sisi mu..
Bukan tak ingin..
tapi apa daya ku yang tak pernah punya kesempatan itu..
Mengemis-ngemis kesempatan itu pada mu?
Berulang kali ku lakukan..
Bukan sekali ku minta bertemu..
Apa jawab  mu?
Dia yang kau temui berulang kali..
Aku bilang cemburu.. kau menertawai ku..
Kata mu..tak usah mengasihani diri sendiri..
Andai saja kau ingin mengerti sedikit perasaan ini..
Aduh..
Luka ini terasa perih..

Aku.. pejuang muda ini.. akhirnya mulai kalah..
Aku mulai berdamai dengan kenyataan..
Bahwa perang ini tak akan bisa kumenangkan..
Tapi tahukah kau kekasih penjajah hati ku?..
Ku akui.. kuncup-kuncup merah putih itu mungkin kehilangan mahkotanya..
Tapi akarnya tertancap dalam.. bahkan terlalu dalam..
Bagian hidup ku yang kau beri makna.. terlalu erat menggenggam mu..
Mengisi semua  sisi hati..
Tak bersisa untuk mereka yang lain..Mereka yang bahkan ingin membantu ku berjuang..
Ingin rasanya aku marah.. tapi aku tak mampu..
Ingin rasanya ku membenci mu..tapi aku tak bisa..
Kirimlah foto-foto mu”
“Aku tak akan kirim foto. Kalau mau foto, ketemu dulu.”
“Ya nanti ketemu, kirim foto dulu.”
“Ga mau.”
Tapi.. akhirnya ku kirim kan?
Bukan sekali.. berulangkali..
Walau dengan omelan..walau dengan nada protes..
Bahkan walau tanpa pertemuan..
Kenapa?
Untuk berjuang, ego pribadi ini harus diturunkan dari takhtanya..

Wahai kekasih penjajah hati, apakah kau mengerti semua yang kulakukan?
Aku sadar.. mungkin semua yang ku lakukan terlalu sederhana..
Mungkin  terlalu biasa untuk menunjukkan rasa sayang ku pada mu..
Tapi ketahuilah..
Di antara setiap untaian protes ku..
Di antara setiap nada-nada amarah ku..
Di antara setiap detik diam ku..
Ada sepotong hati kecil yang pernah kau tikam.. tapi tak pernah berhenti mendoakan mu..
Ya.. sampai di detik 17 Agustus 2015..
Aku masih terjajah perasaan ini..
Walau perih..tapi aku tak sanggup membebaskan diri ku..
Cinta ini membutakan mu, kata Rahelita.

Tuhan, biasanya  setiap tanggal 17 Agustus..
Hari Kemerdekaan Indonesia..
Presiden RI, memberikan grasi bagi para tahanan..
Bolehkah di 17 Agustus tahun ini, ku harapkan grasi dari Engkau?
Jika boleh.. berikanlah pejuang muda ini hati yang baru..
Tanpa luka menganga yang berdarah atau pun bekas tikaman kekasih penjajah hatinya..
Berilah hati yang penuh ketulusan...
Ketulusan untuk menerima semua yang Engkau  kerjakan dalam hidupnya..
Ketulusan untuk tidak memaksa kehendaknya dalam kehendak Mu..
Ketulusan untuk menerima semua yang  Kau berikan..
Dan melepas semua yang Engkau ambil kembali..
Tuhan, ku titipkan perasaan ini kepada Mu..
Aku belum menyerah..Aku berserah..
Tapi..Kalaupun kehendak Mu aku harus mengalah..
Sekali lagi..berikan aku hati yang tulus..
Jangan lupa siapkan Damai Sejahtera Mu, Tuhan..
Agar tak ada lagi hati yang berdarah dan terluka..
Doa ku.. berikanlah kebahagiaan bagi  Kekasih Penjajah  Hati ku..
Dia berhak bahagia, Tuhan.
Dan.. aku juga..pejuang muda ini.


Diberkatilah Indonesia. Berikanlah hati yang baru bagi pemimpin-pemimpin Bangsa  dan bagi seluruh warga negara Indonesia, ya Tuhan. Hati yang bersih dari korupsi, hati yang bersih dari mementingkan kepentingan sendiri, hati yang tulus bagi kemajuan bangsa, hati yang tulus bagi kesejahteraan rakyat, dan yang utama hati yang tulus bagi Kemuliaan Nama Mu.  Dirgahayu ke-70 Republik Indonesia. Jayalah Bangsa ku, Jayalah Negara ku, Demi Hormat dan Kemuliaan nama Tuhan. Amin. Ayo kerja!!