27.8.15

09 Desember untuk Kanaya

          Dentingan nada komposisi Canon D gubahan Bethoven mencapai pusat saraf pendengaran Kanaya. 30 detik kemudian ia sadar itu bunyi ringtone hpnya yang entah berada di mana. Masih dengan mata tertutup, tangannya menelusuri  bagian-bagian ranjang yang bisa digapainya. Sekali lagi hp itu berbunyi dan getarannya mengagetkan Kanaya yang ternyata sejak semalam meletakan benda mungil itu dalam saku piyamanya.
           “Ayah”!  Display layar hpnya menunjukkan siapa si penelpon pagi ini. Belum sempat Kanaya menjawab, alunan nada Canon D berhenti.  Mata Kanaya menelusuri layar hpnya memastikan pukul berapa sekarang. Jam analog di sudut layar hpnya menunjukkan pukul  05.30. “Masih terlalu pagi untuk ditelpon Ayah”, batin Kanaya. “Ada apa gerangan?”  Jari-jari Kanaya langsung mencari kontak ayahnya di daftar kontak hp. Namun, baru saja Kanaya hendak menekan tombol dial, layar hpnya kembali menujukkan nama “Ayah”.
“Hallo, selamat pagi Yah”, jawab Kanaya.
Tak ada balasan dari ujung telepon sana.
“Hallo, Yah”, ulang Kanaya lagi.
“Ayah dengar?” tanya Kanaya yang sebenarnya mempertanyakan jaringan telepon yang sepagi  ini sudah bermasalah. Hening sejenak, Kanaya menunggu tanpa berniat memutuskan sambungan telpon dengan ayahnya. Tiba-tiba dari ujung telepon itu terdengar isak tangis tertahan. Ada suara terbata-bata yang mencoba mengatakan sesuatu namun tertahan suara tangis yang enggan disuarakan. Kanaya kalut. Kecemasan mulai merambat menjalari seluruh sel tubuhnya. Ya, sejak berita kematian ibunya yang dikabarkan melalui hp, Kanaya sedikit trauma dengan benda mungil ini. Kanaya bahkan selalu menonaktifkan hpnya saat hendak memejamkan mata. Dia terlalu takut akan kemungkinan mendengar berita serupa lagi melalui hp.
             Lambat laun suara di ujung telepon itu terdengar jelas.  Tampaknya sang Ayah sudah mampu menguasai diri.  Tak begitu halnya dengan Kanaya. Cemas dan gelisah masih menghantuinya.
“Hallo, Yah”, Kanaya kembali mencari jawaban sang Ayah.
“Nak”, suara lemah itu sampai di pendengaran Kanaya.
“Iya, Yah”, jawab Kanaya.
“Selamat Ulang Tahun, Nak”, ucapan itu disertai isak tangis sang Ayah.
Kanaya terdiam sejenak dan mencoba mencerna ucapan Ayahnya. Kanaya bahkan hampir lupa jika hari ini adalah hari ulang tahunnya. Dia terlalu sibuk dengan semua tugasnya hingga ia lupa pagi ini adalah tanggal 09 Desember.  Ada pilu yang tiba-tiba menyentil dinding hatinya.
             Biasanya ada sepasang suara yang mengucapkan selamat ini. Tapi, pagi ini hanya tersisa satu suara berat berwibawa bernada duka. Isak tangisnya yang menyertai ucapan selamat, jelas bertutur tentang rasa kehilangannya. Kehilangan suara merdu sang isteri tercinta yang baru 2 bulan lalu kembali ke TuhanNya. “Terima Kasih, Yah”, ucap Kanaya disertai butiran bening yang mengaliri pipinya. 09 Desember pagi ini terasa berbeda, tanpa selamat dari sang Bunda.


#09122008

No comments: