Dentingan nada komposisi Canon D
gubahan Bethoven mencapai pusat saraf pendengaran Kanaya. 30 detik kemudian ia
sadar itu bunyi ringtone hpnya yang entah berada di mana. Masih dengan mata
tertutup, tangannya menelusuri
bagian-bagian ranjang yang bisa digapainya. Sekali lagi hp itu berbunyi
dan getarannya mengagetkan Kanaya yang ternyata sejak semalam meletakan benda
mungil itu dalam saku piyamanya.
“Ayah”! Display layar hpnya menunjukkan siapa si
penelpon pagi ini. Belum sempat Kanaya menjawab, alunan nada Canon D
berhenti. Mata Kanaya menelusuri layar
hpnya memastikan pukul berapa sekarang. Jam analog di sudut layar hpnya menunjukkan
pukul 05.30. “Masih terlalu pagi untuk ditelpon Ayah”, batin Kanaya. “Ada apa gerangan?” Jari-jari Kanaya langsung mencari kontak
ayahnya di daftar kontak hp. Namun, baru saja Kanaya hendak menekan tombol
dial, layar hpnya kembali menujukkan nama “Ayah”.
“Hallo, selamat pagi Yah”, jawab Kanaya.
Tak ada
balasan dari ujung telepon sana.
“Hallo, Yah”, ulang Kanaya lagi.
“Ayah dengar?” tanya Kanaya yang
sebenarnya mempertanyakan jaringan telepon yang sepagi ini sudah bermasalah. Hening sejenak, Kanaya
menunggu tanpa berniat memutuskan sambungan telpon dengan ayahnya. Tiba-tiba
dari ujung telepon itu terdengar isak tangis tertahan. Ada suara terbata-bata
yang mencoba mengatakan sesuatu namun tertahan suara tangis yang enggan
disuarakan. Kanaya kalut. Kecemasan mulai merambat menjalari seluruh sel
tubuhnya. Ya, sejak berita kematian ibunya yang dikabarkan melalui hp, Kanaya
sedikit trauma dengan benda mungil ini. Kanaya bahkan selalu menonaktifkan hpnya
saat hendak memejamkan mata. Dia terlalu takut akan kemungkinan mendengar
berita serupa lagi melalui hp.
Lambat laun suara di ujung telepon
itu terdengar jelas. Tampaknya sang Ayah
sudah mampu menguasai diri. Tak begitu
halnya dengan Kanaya. Cemas dan gelisah masih menghantuinya.
“Hallo, Yah”, Kanaya kembali mencari
jawaban sang Ayah.
“Nak”, suara lemah itu sampai di
pendengaran Kanaya.
“Iya, Yah”, jawab Kanaya.
“Selamat Ulang Tahun, Nak”, ucapan itu
disertai isak tangis sang Ayah.
Kanaya terdiam
sejenak dan mencoba mencerna ucapan Ayahnya. Kanaya bahkan hampir lupa jika
hari ini adalah hari ulang tahunnya. Dia terlalu sibuk dengan semua tugasnya
hingga ia lupa pagi ini adalah tanggal 09 Desember. Ada pilu yang tiba-tiba menyentil dinding hatinya.
Biasanya ada sepasang suara yang
mengucapkan selamat ini. Tapi, pagi ini hanya tersisa satu suara berat
berwibawa bernada duka. Isak tangisnya yang menyertai ucapan selamat, jelas
bertutur tentang rasa kehilangannya. Kehilangan suara merdu sang isteri
tercinta yang baru 2 bulan lalu kembali ke TuhanNya. “Terima Kasih, Yah”, ucap Kanaya
disertai butiran bening yang mengaliri pipinya. 09
Desember pagi ini terasa berbeda, tanpa selamat dari sang Bunda.
No comments:
Post a Comment