30.11.11

If she were here, today should be her birthday.
Happy Birthday, Mom.
Even though I can't say this and kiss you directly.. I still love you..!! Pray and Love for you.
The best Mom I've ever had.


17.11.11

TUHAN DALAM DIRI KU

AKU SEDANG INGIN BERCERITA...
NAMUN,... TERNYATA TAK ADA BIBIR DAN TELINGA
YANG BERSEDIA MENDENGARKAN...
MEREKA SEDANG SIBUK DENGAN URUSAN MEREKA SENDIRI..

MAKA AKU MEMILIH BERCERITA PADA DIRI KU SENDIRI...

Tiba tiba ku teringat...

TUHAN.. MASIH SUDIKAH KAU MENDENGAR CERITA KU..??
LAMA AKU TAK PERNAH BERCERITA DENGAN MU...
AKU MENJADI SEGAN UNTUK BERCERITA LAGI DENGAN MU...

dan hati kecil ku berkata...

TUHAN SELALU MENJADI PILIHAN TERAKHIR...
MUNGKIN ITULAH MENGAPA MANUSIA SELALU KEMBALI
PADA TUHANNYA...

YA, AKU MEMUTUSKAN BERCERITA
PADA DIRI KU SENDIRI...
KARENA TUHAN KU ADA DALAM KU...

SEMOGA DIA MENDENGAR...

13.11.11

Sensasi "Olahraga Memukul Bulubebek"

Malem Guys...
lama ga nulis neh...
akhirnya sekarang mau nulis sesuatu...
^___^


Tadi di status FB ku, ku tulis " Merasakan sensasi itu lagi.. deg..deg..deg". Seperti yang ku duga, pasti ada yang mengira status itu tak jauh-jauh dari masalah hati, cinta, perasaan, asmara dan teman-temannya. Dengan berat hati harus kukatakan bahwa semua perkiraan itu salah. Ha5

Kira-kira sensasi apa ya? Penasaran ga guys?

Well, biar ga penasaran. Ku jelaskan saja.. ^^, Sensasi itu adalah perpaduan antara ketegangan, ketakutan, kecemasan dan rasa berdebar-debar yang membuat ku duduk dengan tenang di depan tv, tangan terlipat (posisi berdoa), mulut komat-kamit, dan disertai dengan suhu badan yang berubah dingin khususnya dibagian kaki dan tangan. Ya, sensasi yang selalu kurasakan saat menonton pertandingan Bulutangkis, saat pemain-pemain Indonesia sedang bertanding. Sejak sekian lama sensasi itu tak kurasakan lagi, hari ini kurasakan kembali sensasi itu.

Singkat cerita, dulu aku seorang yang sangat menyukai cabang olahraga itu. Olahraga memukul bulu-bulu bebek!!! Bahkan, dulu pernah pengen jadi pemain bulutangkis. Susi Susanti dan Mia Audina adalah idola ku sejak dahulu. Rambut ku akan ku kuncir seperti rambutnya Susi Susanti, saat jam pelajaran Penjas di sekolah. Selain itu, aku pernah menulis surat untuk Mia Audina di Pelatnas Cipayung (berbekal alamat dari majalah Bobo). Tapi entahlah, apakah surat itu nyampe ke tangan Mia Audina, ataukah ke Mia-mia lainnya, aku tak pernah tahu.


Aku tak tahu pasti sejak kapan aku benar-benar menyukai olahraga ini. Yang aku tahu, aku kemudian senang menggunting potongan-potongan gambar pemain bulutangkis di tabloid Bola papa ku, kemudian menempelkannya dalam sebuah buku tulis. Buku itu pun kemudian menjadi kliping gambar pemain-pemain bulutangkis karya ku. Semua gambar even-even penting bulutangkis terekam dalam buku itu. Mulai dari Thomas Cup dan Uber Cup, All England, Indonesia Open, Sea games, ASEAN games, bahkan Olimpiade pun ada di buku itu. Tapi entah dimana sekarang buku itu berada.

Well, back to that sensation!! Sensasi itu selalu kurasakan setiap menonton pemain-pemain bulutangkis Indonesia bertanding. Kadang ku pikir, yang di depan tv aja sudah begitu sensasinya, bagaimana jika nonton langsung? Mungkin aku akan "mati berdiri" menghadapi sensasi itu. Tempat duduk ku harus paling depan saat nonton pertandingan bulutangkis. Setelah duduk, 2 tangan ku dilipat (posisi berdoa). Suhu tubuh ku kemudian akan berubah semakin dingin, khususnya bagian kaki dan tangan. Kadang disertai keringat. Akan semakin dingin jika, posisi pemain Indonesia terancam kekalahan. Suhu tubuh yang semakin dingin akan mempengaruhi gerakan bibir ku. Tanpa sadar, bibir ku akan komat-kamit seperti sedang membacakan mantra. Ya, aku memang sedang membaca mantra. Mantra DOA agar Indonesia tidak kalah.

Dalam situasi ini, aku seperti terasing, sendiri, tak ada seorang pun, walaupun di sekitar ku ada puluhan orang yang berteriak-teriak memberi semangat untuk pemain Indonesia. Hanya kedua mata ku yang memandang tv dan mulut komat-kamit membacakan doa! Aku tak akan berbicara dan tak bisa diganggu saat sedang mengalami sensasi ini. Karena aku bahkan tak akan sadar ada yang berbicara pada ku. Sensasi ini akan mereda ketika semuanya telah berakhir, entah kalah atau menang. Seringkali hal ini menjadikan ku bahan tertawaan keluarga ku. Kadang papa ku berkata "coba diraba dulu badannya.. jangan-jangan beku". Ha5 Ya, kaki dan tangan ku akan sedingin es.

Meskipun sensasi yang kurasa selalu seperti ini saat menonton pertandingan bulutangkis, aku tak pernah kapok, bahkan selalu menanti-nantikannya. Pernah sekali, pertandingan bulutangkis Piala Thomas dan Uber bertepatan dengan ulangan umum sekolah. DILEMA!! Aku harus belajar untuk ulangan besok, sementara pertandingannya berlangsung pada jam belajar ku. Mama ku tidak mengijinkan ku menonton pertandingan bulutangkis. Aku harus tetap belajar. Hasilnya apa? Mataku saja yang di buku, tapi pikiran ku melayang-layang di depan tv dan telinga ku hanya mendengar teriakan orang-orang. Jika sorakannya senang, berarti Indonesia mendapatkan angka. Jika umpatan yang terdengar, Indonesia kehilangan angka. Keadaan ini tak berlangsung lama, karena akhirnya aku melakukan pemberontakan. Ku katakan pada mama ku "Aku tak bisa, aku harus nonton". Kursi depan pun terisi oleh seorang pecinta olahraga memukul bulu bebek. Sensasi itu pun terasa kembali.

Aku tak pernah mengerti sensasi apa ini. Mengapa aku selalu merasakan sensasi ini. Apakah orang lain juga mengalami yang sama? Aku pikir ini karena ketertarikan ku pada olahraga ini. Ketertarikan ku pada olahraga ini pernah ku utarakan pada mama ku. Saat ia bertanya, "cita-citanya pengen jadi apa ?" Dengan lantang ku jawab, "ingin jadi pemain bulutangkis". Sayangnya, fasilitas klub atau pelatihan bulutangkis di tempat ku saat itu sangat minim. Akhirnya, aku tak pernah bisa menyalurkan keinginan dan bakat ku. Untuk mengurangi kekecewaan ku, papa ku membelikan sepasang raket lengkap dengan netnya. Net dipasang di halaman, dan hampir setiap sore papa ku menjadi lawan sekaligus pelatih amatiran ku. Ha5

Sampai sekarang aku masih menyukai bulutangkis. Hanya saja tak lagi seperti dulu. Mungkin karena sudah tak mungkin aku jadi pemain bulutangkis. Ha5 Ditambah pula sekarang semakin sedikit pertandingan-pertandingan bulutangkis yang disiarkan di TV. Walaupun demikian, "sensasi" itu kurasakan kembali tadi, saat menonton pasangan ganda putera Indonesia bertanding. Ku pikir, sensasi ini mungkin tak akan pernah hilang. Akan terus terjadi saat aku menonton pertandingan bulutangkis. ha5. Tak mengapa, aku bersyukur untuk sensasi ini. ^^,





Met malem guys...
Love Badminton!!

7.11.11

Sebuah Cerita,Sepenggal Canda dan Segelak Tawa

Tak pernah ku bayangkan bakal kenal kamu. Bayangkan aja ga pernah, apalagi mimpi. Awalnya aku tak tahu siapa kamu, tinggal dimana, kerjaannya apa, hobbynya apa dan sebagainya. Ya, aku benar-benar tak mengenal mu. Kau adalah sebuah rahasia bagi ku!! Bahkan untuk sebuah nama asli pun.. itu sebuah rahasia!! Yang aku kenal, kau hanya sesosok avatar pria di sebuah situs pertemanan.

"Apa tuh di tangan? Ban mobil ya?" Pertanyaan ini dengan spontan ku tanyakan ketika melihat mu dengan sebuah barang di tangan yang mirip ban mobil ketimbang sebuah senjata. Ya, inilah yang mengawali percakapan kita. Sejak saat itu, kau dan aku sering bercerita, mendengar suara merdu Alicia Keys, bercanda, dan tertawa. Tapi, tetap saja aku tak tahu siapa kamu.

Terkadang di depan mereka, kau meledek ku dengan semua ledekan yang senang kau lontarkan. Dari pembantu, tukang makan mangkok, sampai tukang ngepet. Tapi, itu semua tak pernah ku hiraukan. Tak masalah kau meledek ku dengan semua gelar itu, karena saat berdua bersama mu, kau begitu manis. Tak pernah sebuah ledekan pun kau lontarkan. Aku tak mengerti.. apakah kau memiliki kepribadian ganda??...

Hampir tiap hari dalam beberapa bulan itu kau selalu menghiasi malam-malam ku. Mata ini akan tetap terjaga saat kita bercerita, bercanda dan tertawa. Ya, kecuali beberapa kali aku harus tidur lebih awal karena kebiasaan tidur pagi ku berdampak buruk. Tapi, lagi-lagi aku tak pernah tahu siapa kamu sebenarnya. Bahkan untuk sebuah nama asli! Pernah kupikirkan, tak sempat ku katakan walaupun ingin ku katakan, tak adil! Kau tahu siapa nama ku, dan aku tak tahu siapa nama mu. "Panggil saja id ini", begitu yang selalu kau katakan, tiap kutanya nama mu.

Ya, sepertinya nama mu begitu mahal untuk disebutkan. Sampai suatu saat, ketika aku pertama kali mendengar suara mu. Tak pernah ku katakan kalau aku gugup, bukan? Aku takut, apa yang harus ku katakan, apa yang harus ku bicarakan? Kira-kira kita akan bercerita tentang topik apa ya? Selama ini percakapan kita bisu. Dan sekarang percakapan ini akan diberi suara. Akankah percakapannya nanti seseru percakapan bisu kita? Walaupun ragu, aku tetap menjawab telpon mu, karena aku menghargai kesediaan mu menelpon. Terima Kasih!!

Ternyata kenyataannya tak seseram ketakutan dan kegelisahan ku. Percakapan suara kita masih tetap seseru percakapan bisu kita. Dan Finally, akhirnnya nama yang mahal itu diobral juga. Ha5 Yup, walaupun dengan sedikit desakan, akhirnya nama mu ku ketahui juga. "Ya, orang tua dah malas ngasih nama, makanya ngasih itu aja", kata mu. Ha5 lucu! Koq lucu? Iya, karena nama ku juga diberikan dengan cara yang sama, based on the month when I born!! Jadi intinya, orang tua kita ga mau susah-susah nyari nama ya? Mungkin aja begitu. Itu urusan mereka!!

Ok, nama...check... yang lain? Tetap aja masih rahasia. Lelaki misterius, pikir ku!! Well, percakapan bisu kita tetap dilakukan, dan begitu pun percakapan suara kita, walaupun tak seperti jam buka Apotik 24/7. "It's just about time"!! Yep, hanya masalah waktu sampai aku akhirnya tahu, nama kamu, dimana kamu tinggal, kamu kerjanya apa, hobinya apa, bagaimana kehidupan mu dan lain sebagainya, walaupun sampai sekarang aku belum tahu pasti wujud mu seperti apa.. ha5 Tetap, terima kasih untuk sebuah foto yang kau berikan. "Jari-jari mu gemuk", komentar pertama ku saat melihat foto itu.

Singkat kata singkat cerita, ternyata percakapan bisu kita agak berdampak buruk. Dan saat hal itu terjadi, kau memutuskan untuk mengurangi percakapan itu. Sebenarnya aku merasa sedih jika kehilangan cerita-cerita mu. Tapi itu keputusan mu, tak berhak aku melarangnya. Saat itu, kupikir cerita-cerita kita telah berakhir. Tak akan ada lagi cerita, bercanda dan tertawa bersama mu. "The End" untuk cerita-cerita kita.

Faktanya, apa yang kita pikirkan belum tentu sejalan dengan kenyataan. Ya, saat itu kupikir aku tak bisa lagi bercerita, bercanda dan tertawa bersama mu. Kenyataannya, sampai aku menulis tulisan ini, aku masih bisa bercerita, bercanda dan tertawa dengan mu, walaupun tetap tak seperti Apotik 24/7.

Aku senang bercerita, bercanda dan tertawa dengan mu. Aku senang, ada yang bisa diejek dan dihina, karena ku tahu, kau tak akan marah untuk semua ejekan dan hinaan ku. Begitu pun sebaliknya, aku tak akan marah jika kau ejek dan kau hina, karena ku tahu semuanya itu tak sungguh-sungguh kau katakan. Hanya bercanda bukan?? Ya, temanya bercanda. Masa bodoh, jika itu juga sungguh-sungguh kau katakan. Aku tak peduli! Karena aku tetap yakin kau tak sungguh-sungguh mengatakannya. Ha5

Tak kusangka kita punya banyak bahan cerita untuk diceritakan. Masalah game, film, hidup, teman, masa kecil, keluarga, hobi, apa saja yang bisa diceritakan, akan menjadi topik pembicaraan kita. Walaupun jujur harus ku akui, terkadang aku lebih mendominasi pembicaraan kita. Maafkan aku!! Ha5 Saat salah satu dari kita telah lelah bercerita, maka iklan ind**ie pun menjadi solusinya, "Ini cerita ku, mana cerita mu?". Versi bahasa Inggrisnya yang ku gunakan di awal blog ini. Ya, terinspirasi saat bercerita dengan mu.

Senang rasanya tertawa lepas dan mendengarmu tertawa lepas. Seolah-olah tak ada hal lain yang bisa terjadi dalam hidup ini, selain tertawa dan tertawa. Itu yang kurasakan, tak tahu apa yang kau rasakan. Atau karena aku memang gila?? Ya, saat bercerita, bercanda dan tertawa bersama mu, membuat ku lupa bahwa ada banyak hal buruk yang terjadi dalam hari-hari ku. Namun, sering terlintas dalam pikiran ku, sampai kapan kita dapat bercerita, bercanda dan tertawa seperti ini? Mustahil jika jawabannya selamanya.

Aku bukan siapa-siapa bagi mu. Dan kau, bagaikan seorang asing yang baru saja mampir dalam hari-hari ku. Tapi, kau telah membuat jejak-jejak cerita, canda dan tawa di atas pasir pikiran ku. Terima kasih telah bercerita, bercanda dan tertawa bersama ku. Kita tak pernah tahu sampai kapan ini akan berlanjut. Tapi, jika nanti suatu saat, ketika kita telah sibuk dengan kehidupan kita masing-masing, dan mungkin tak punya cukup waktu lagi untuk bercerita, bercanda dan tertawa bersama, ingatlah ada seseorang yang pernah mampir dan mengejek mu, menghina mu, menertawakan mu dan memanggilmu udin, perut karung..apalagi ya..sedikit panggilan mu yang kupunya..!! Dan aku akan mengingat ada seseorang yang memanggil ku Unyil, Kades, Ting ting.. apalagi ya.. kebanyakan makanya ku lupa!!

Semoga kita masih bisa terus bercerita, bercanda dan tertawa bersama!!
INI CERITA KU, MANA CERITA MU??