“Ibu..kondisi ayah baik-baik saja kan?”,
sebuah pesan singkat dikirimnya pada sang bunda. Gelisah. Begitulah suasana
hatinya sore ini. “Iya, nduk.” Begitu saja sms balasan sang bunda. Jawaban
pendek ini serasa tak cukup untuk menenangkan kegelisahan hatinya. Tapi,
jawaban ini dari ibu. Kejujurannya selama ini menjadi teladan bagi anak gadis
bungsunya. Ibu selalu jujur. Ibu tak mungkin berbohong. Ayah pasti baik-baik
saja. Ia menepis semua kegelisahan di hati dan melangkahkan kaki berlalu dari
gedung gereja tua itu. Hujan rintik-rintik mengiringi langkahnya. Basah.
Kenapa langit
seolah menangis? Sejak sore tadi,
tetesan-tetesan air hujan tak berhenti membasahi bumi. Jangan-jangan Tuhan
sudah membisikkan kisah ini pada langit? Dia duduk membisu. Matanya menatap sebuah
paket kecil dari sang bunda. “Ibu memang
paling mengerti”, batinnya sambil tersenyum. Tiba-tiba dering ponsel
mengalihkan perhatiannya. Lalu sekian detik kemudian, suara dari ujung ponsel
itu menyisakan tanya di hati. Sang kawan baru saja memutuskan pembicaraan
dengan panik dan gagap. Saraf-saraf gadis ini mulai menegang. Sel-sel otaknya
mulai bekerja keras mencari jawaban dari kepanikan yang ditinggalkan tadi. Detak
jantungnya semakin kencang. Darahnya mengalir deras. Napasnya memburu.
Adrenalinnya meningkat tajam. “Ibu”. Satu-satunya jawaban paling jujur
saat ini. Tak perlu waktu lama untuk menekan tombol dial di ponselnya. Tut..tut..tut.., nada ini berulang
terus, tanpa jawaban sang empunya ponsel. Sekali..dua kali.. tiga kali..dan
entah sampai berapa kali dia mengulang terus panggilan di ponselnya. Gelisah
semakin menusuk tajam relung hatinya. Sang jawaban paling jujur enggan menjawab
saat ini. Dimanakah Dia? Apakah saat ini
dia sedang menemani kekasih hatinya? Ataukah saat ini dia sedang meratapi
kepergian kekasih hatinya? Ayah, apakah engkau telah pergi? Ayah, apakah engkau
telah meninggalkan ku? Jawaban paling jujur itu enggan menjawab ku, Ayah. Gadis ini gelisah. Tanpa jawaban. Mengapa
semua orang membohongi ku? Mengapa
mereka senang jika aku gelisah? Lalu, engkau Ibu, apakah engkau juga senang
jika aku gelisah? Engkau satu-satunya jawaban terjujur saat ini. Kejujuran mu
yang selama ini kukagumi dan ku teladani. Tapi mengapa engkau enggan menjawab
ku? Ibu, apakah kejujuran mu sudah mulai luntur? Tidak. Aku tak yakin itu. Ibu, engkau terlalu jujur untuk sanggup berbohong. Bahkan di saat harus berbohong pun, engkau
tetap jujur. Lalu mengapa Ibu? Mengapa saat ini engkau enggan jujur pada ku?
Semua
pertanyaannya berhenti di detik ini. Air mata menetes dari kedua bola matanya.
Perlahan mengalir melewati kedua lesung pipinya. Menetes. Jatuh membasahi
seprei biru muda yang membungkus ranjangnya. Tangannya masih menggenggam ponsel
yang masih bersuara. Suara itu masih meneriakan namanya, Naya.
Naya hanya diam membisu. Air matanya tak berhenti menetes, seirama dengan
tetesan hujan yang masih membasahi bumi. Warna kelabu di langit Bandung sore
ini, semendung hati Naya. Bunyi guruh di ujung langit dan kilatan petir menyatu
menjadi sebuah melodi duka. Jawaban jujur dari ponsel tadi, menghujam tajam
menusuk ulu hati Naya. Pedih. Sakit teriris sembilu. Ibu, mengapa bukan engkau yang menjawab ku? Mengapa jawaban jujur ini bukan dari mulut mu
Ibu? Direbahkannya tubuhnya ke
ranjang. Kedua tangannya memeluk erat guling biru mudanya. Dia memejamkan mata
dan melayangkan pikirannya jauh. Kini, kejujuran itu terbujur kaku. Dingin.
Tanpa nyawa. Jawaban jujur itu tak lagi
bersuara. Diam. Satu-satunya kejujuran yang tersisa bagi Naya sore ini adalah
ibunya telah tiada.
Ibu, engkau teladan kejujuran bagi ku. Sejak
kecil, engkau selalu mengajarkan arti sebuah kejujuran. Jujur adalah kewajiban
dan keharusan. Tak bisa ditawar dan dibeli dengan apapun juga. Semua kejujuran
mu jujur dari hati, ibu. Dengan kejujuran mu, engkau menikahi ayah ku. Dengan
kejujuran mu, engkau membesarkan aku dan kakak ku. Dengan kejujuran juga engkau
mengabdi pada keluarga mu, lalu pada negara mu, dan yang paling utama pada
Tuhan mu. Ibu,engkau telah banyak menabur benih kejujuran dalam hidupmu. Tapi,
kau berbohong sekali pada ku. Engkau bahkan tak jujur tentang sakit mu, Ibu.
Apakah engkau jujur dalam diam? Kalau benar begitu, aku ingin engkau berbohong
saja, agar engkau tetap hidup bersama ku. Bohong mu tak akan melunturkan
kejujuran mu. Ibu, percakapan malam kemarin, masih jelas di memori ku. Engkau
dengan jujur mengutarakan semua keinginan mu pada ku. Iya ibu, soal lanjut
sekolah, soal beli sepatu, soal ayah, soal rajin berdoa, dan sebuah ucapan
jujur dari mu saat ku ingatkan engkau untuk berdoa bagi ku. Ah, aku masih ingat
dengan jelas ibu, saat dengan jujur engkau berkata “Aku akan selalu mendoakan
mu nak, layaknya lagu Di Doa Ibu ku, Nama ku Disebut.” Itu terlalu jujur, Ibu. Sungguh, itu ucapan
terjujur mu pada ku,bahkan di penghujung usia mu. Ibu, ijinkan aku kali ini
jujur pada mu. Jujur aku sungguh mencintaimu, Ibu. Engkau wanita terhebat dalam
hidup ku. Kejujuran mu teladan bagi ku. Tuhan, terimalah Ibu di sisimu.
Peluklah dia dalam damai Mu. Terima Kasih mengijinkan aku memanggilnya, Ibu.
Amin. Tangannya masih terlipat. Naya membuka matanya yang masih sembap.
Pandangannya yang agak kabur menatap langit Bandung yang mulai gelap dari
jendela kamarnya. Malam menghampirinya.
Langkahnya
gontai. Tatapannya kosong. Ini bagaikan mimpi bagi Naya. Malam kemarin dia
bahkan masih berbincang dengan sang bunda. Tapi kini, dia sedang melangkah menuju
sang kejujuran yang terbaring kaku tanpa nyawa. Isak tangis keluarga
menyambutnya saat memasuki rumah. Dia kembali ke Solo membawa duka mendalam. “Ibu...”, lirih suaranya memanggil sang
bunda yang telah terbaring kaku dalam peti jenasah. Tangannya menyentuh pipi
sang bunda. Cantik. Tapi dingin dan kaku bak pualam. Tetesan air matanya
menetes tepat di kelopak mata sang bunda, saat dia menunduk menciumnya. “Ibu, Naya pulang. Kenapa Ibu pergi
tinggalkan Naya?”, isak tangisnya semakin tak tertahan. Tubuhnya sempoyongan.
Matanya gelap. Tiba-tiba lengannya diapit kencang. Beberapa kerabat kemudian
mendudukannya tepat di samping peti jenasah sang bunda. Matanya menyapu seluruh
isi ruangan itu. Kakaknya terlihat di sudut sana, terisak di bahu tantenya. Ayah? Di mana ayah? Sosok lelaki tua itu tak
dia jumpai di ruangan ini. Ayah kemana? Apakah ayah baik-baik saja? Di kamar itu,
ayah terbaring lemas. Air matanya mengalir deras, saat tatapannya
menangkap bayangan Naya di depan pintu kamar. Isak tangisnya tak sedikitpun
mengeluarkan suara. “Naya..”, terbata-bata
dia menyebut nama anak gadis bungsunya. Tuhan,
tidakkah Engkau merasakan penderitaan lelaki tua ini? Apa rasanya kehilangan
sang kekasih hati di saat tubuh ini sedang tak berdaya? Bukan tubuhnya saja
yang tak berdaya, perasaannya pun tak berdaya merelakan kepergian belahan jiwanya. Tuhan, apakah Engkau sekejam itu? Dipeluknya sang ayah. Sambil terisak dibisikan
di telinga ayahnya, “Naya, sayang
ayah..”.
Mendung
menggelayut di langit Solo, sore ini. Apakah alam ikut bersedih? Apakah alam
ikut kehilangan sang kejujuran, teladan Kanaya Apsari? Entahlah. Yang Naya
tahu, sebentar lagi dia harus merelakan sang kejujuran itu kembali pada
Tuhannya. Sekali lagi ditatapnya jenasah sang bunda yang terbaring kaku. Gaun
merah muda berenda itu cantik membalut
tubuh sang bunda. Beberapa buket bunga dihias dalam petinya. Sungguh, bak putri
tidur yang menantikan sang pangeran berkuda.
“Engkau Cantik, Ibu”, batinnya. Naya
meraih sebuah bungkusan yang terletak di kursi. Tangannya dengan sigap membuka
plastik pembungkusnya. Perlahan dia meletakannya tepat di samping kaki sang
bunda yang terbungkus kaos kaki putih. Tak kuasa Naya menahan air mata. Air
matanya deras mengalir, menetes, membasahi tepian peti sang bunda. Lirih suara terucap dari bibir Naya, “Ibu, ini akan menemani langkah Ibu ke Surga”. Dirapikannya posisi sepasang sepatu Merah
Maroon, permintaan terakhir sang bunda. Lalu, dalam hitungan detik, tubuhnya
sempoyongan. Pandangannya kabur. Naya rebah di sisi peti sang bunda. Dalam
hening dan gelapnya semesta, terdengar
bisikan kalbu..“Selamat Jalan Sang
Kejujuran”.
2 comments:
kau membasahi pipiku, dutch...
mama sudah senang dengan Tuhan, buatlah yang jujur supaya bisa ketemu beliau nanti...
hahaahha b mo menulis. Amin :)
Post a Comment