1.1.15

Sang Kejujuran

“Ibu..kondisi ayah baik-baik saja kan?”, sebuah pesan singkat dikirimnya pada sang bunda. Gelisah. Begitulah suasana hatinya sore ini. “Iya, nduk.”  Begitu saja sms balasan sang bunda. Jawaban pendek ini serasa tak cukup untuk menenangkan kegelisahan hatinya. Tapi, jawaban ini dari ibu. Kejujurannya selama ini menjadi teladan bagi anak gadis bungsunya. Ibu selalu jujur. Ibu tak mungkin berbohong. Ayah pasti baik-baik saja. Ia menepis semua kegelisahan di hati dan melangkahkan kaki berlalu dari gedung gereja tua itu. Hujan rintik-rintik mengiringi langkahnya. Basah.

Kenapa langit seolah menangis?  Sejak sore tadi, tetesan-tetesan air hujan tak berhenti membasahi bumi. Jangan-jangan Tuhan sudah membisikkan kisah ini pada langit?  Dia duduk membisu. Matanya menatap sebuah paket kecil dari sang bunda. “Ibu memang paling mengerti”, batinnya sambil tersenyum. Tiba-tiba dering ponsel mengalihkan perhatiannya. Lalu sekian detik kemudian, suara dari ujung ponsel itu menyisakan tanya di hati. Sang kawan baru saja memutuskan pembicaraan dengan panik dan gagap. Saraf-saraf gadis ini mulai menegang. Sel-sel otaknya mulai bekerja keras mencari jawaban dari kepanikan yang ditinggalkan tadi. Detak jantungnya semakin kencang. Darahnya mengalir deras. Napasnya memburu. Adrenalinnya meningkat tajam.  “Ibu”. Satu-satunya jawaban paling jujur saat ini. Tak perlu waktu lama untuk menekan tombol dial di ponselnya. Tut..tut..tut.., nada ini berulang terus, tanpa jawaban sang empunya ponsel. Sekali..dua kali.. tiga kali..dan entah sampai berapa kali dia mengulang terus panggilan di ponselnya. Gelisah semakin menusuk tajam relung hatinya. Sang jawaban paling jujur enggan menjawab saat ini. Dimanakah Dia? Apakah saat ini dia sedang menemani kekasih hatinya? Ataukah saat ini dia sedang meratapi kepergian kekasih hatinya? Ayah, apakah engkau telah pergi? Ayah, apakah engkau telah meninggalkan ku? Jawaban paling jujur itu enggan menjawab ku, Ayah.  Gadis ini gelisah. Tanpa jawaban.  Mengapa semua orang membohongi ku?  Mengapa mereka senang jika aku gelisah? Lalu, engkau Ibu, apakah engkau juga senang jika aku gelisah? Engkau satu-satunya jawaban terjujur saat ini. Kejujuran mu yang selama ini kukagumi dan ku teladani. Tapi mengapa engkau enggan menjawab ku? Ibu, apakah kejujuran mu sudah mulai luntur?  Tidak. Aku tak yakin itu. Ibu, engkau terlalu jujur untuk sanggup berbohong. Bahkan di saat harus berbohong pun, engkau tetap jujur. Lalu mengapa Ibu? Mengapa saat ini engkau enggan jujur pada ku? 

Semua pertanyaannya berhenti di detik ini. Air mata menetes dari kedua bola matanya. Perlahan mengalir melewati kedua lesung pipinya. Menetes. Jatuh membasahi seprei biru muda yang membungkus ranjangnya. Tangannya masih menggenggam ponsel yang masih bersuara. Suara itu masih meneriakan namanya,  Naya. Naya hanya diam membisu. Air matanya tak berhenti menetes, seirama dengan tetesan hujan yang masih membasahi bumi. Warna kelabu di langit Bandung sore ini, semendung hati Naya. Bunyi guruh di ujung langit dan kilatan petir menyatu menjadi sebuah melodi duka. Jawaban jujur dari ponsel tadi, menghujam tajam menusuk ulu hati Naya. Pedih. Sakit teriris sembilu. Ibu, mengapa bukan engkau yang menjawab ku?  Mengapa jawaban jujur ini bukan dari mulut mu Ibu?  Direbahkannya tubuhnya ke ranjang. Kedua tangannya memeluk erat guling biru mudanya. Dia memejamkan mata dan melayangkan pikirannya jauh. Kini, kejujuran itu terbujur kaku. Dingin. Tanpa nyawa. Jawaban jujur itu  tak lagi bersuara. Diam. Satu-satunya kejujuran yang tersisa bagi Naya sore ini adalah ibunya telah tiada.

Ibu, engkau teladan kejujuran bagi ku. Sejak kecil, engkau selalu mengajarkan arti sebuah kejujuran. Jujur adalah kewajiban dan keharusan. Tak bisa ditawar dan dibeli dengan apapun juga. Semua kejujuran mu jujur dari hati, ibu. Dengan kejujuran mu, engkau menikahi ayah ku. Dengan kejujuran mu, engkau membesarkan aku dan kakak ku. Dengan kejujuran juga engkau mengabdi pada keluarga mu, lalu pada negara mu, dan yang paling utama pada Tuhan mu. Ibu,engkau telah banyak menabur benih kejujuran dalam hidupmu. Tapi, kau berbohong sekali pada ku. Engkau bahkan tak jujur tentang sakit mu, Ibu. Apakah engkau jujur dalam diam? Kalau benar begitu, aku ingin engkau berbohong saja, agar engkau tetap hidup bersama ku. Bohong mu tak akan melunturkan kejujuran mu. Ibu, percakapan malam kemarin, masih jelas di memori ku. Engkau dengan jujur mengutarakan semua keinginan mu pada ku. Iya ibu, soal lanjut sekolah, soal beli sepatu, soal ayah, soal rajin berdoa, dan sebuah ucapan jujur dari mu saat ku ingatkan engkau untuk berdoa bagi ku. Ah, aku masih ingat dengan jelas ibu, saat dengan jujur engkau berkata “Aku akan selalu mendoakan mu nak, layaknya lagu Di Doa Ibu ku, Nama ku Disebut.” Itu terlalu jujur, Ibu. Sungguh, itu ucapan terjujur mu pada ku,bahkan di penghujung usia mu. Ibu, ijinkan aku kali ini jujur pada mu. Jujur aku sungguh mencintaimu, Ibu. Engkau wanita terhebat dalam hidup ku. Kejujuran mu teladan bagi ku. Tuhan, terimalah Ibu di sisimu. Peluklah dia dalam damai Mu. Terima Kasih mengijinkan aku memanggilnya, Ibu. Amin. Tangannya masih terlipat. Naya membuka matanya yang masih sembap. Pandangannya yang agak kabur menatap langit Bandung yang mulai gelap dari jendela kamarnya. Malam menghampirinya.

Langkahnya gontai. Tatapannya kosong. Ini bagaikan mimpi bagi Naya. Malam kemarin dia bahkan masih berbincang dengan sang bunda. Tapi kini, dia sedang melangkah menuju sang kejujuran yang terbaring kaku tanpa nyawa. Isak tangis keluarga menyambutnya saat memasuki rumah. Dia kembali ke Solo membawa duka mendalam. “Ibu...”, lirih suaranya memanggil sang bunda yang telah terbaring kaku dalam peti jenasah. Tangannya menyentuh pipi sang bunda. Cantik. Tapi dingin dan kaku bak pualam. Tetesan air matanya menetes tepat di kelopak mata sang bunda, saat dia menunduk menciumnya. “Ibu, Naya pulang. Kenapa Ibu pergi tinggalkan Naya?”, isak tangisnya semakin tak tertahan. Tubuhnya sempoyongan. Matanya gelap. Tiba-tiba lengannya diapit kencang. Beberapa kerabat kemudian mendudukannya tepat di samping peti jenasah sang bunda. Matanya menyapu seluruh isi ruangan itu. Kakaknya terlihat di sudut sana, terisak di bahu tantenya. Ayah? Di mana ayah? Sosok lelaki tua itu tak dia jumpai di ruangan ini. Ayah kemana? Apakah ayah baik-baik saja?  Di kamar itu,  ayah terbaring lemas. Air matanya mengalir deras, saat tatapannya menangkap bayangan Naya di depan pintu kamar. Isak tangisnya tak sedikitpun mengeluarkan suara. “Naya..”, terbata-bata dia menyebut nama anak gadis bungsunya. Tuhan, tidakkah Engkau merasakan penderitaan lelaki tua ini? Apa rasanya kehilangan sang kekasih hati di saat tubuh ini sedang tak berdaya? Bukan tubuhnya saja yang tak berdaya, perasaannya pun tak berdaya merelakan kepergian belahan jiwanya. Tuhan, apakah Engkau sekejam itu?  Dipeluknya sang ayah. Sambil terisak dibisikan di telinga ayahnya, “Naya, sayang ayah..”.

Mendung menggelayut di langit Solo, sore ini. Apakah alam ikut bersedih? Apakah alam ikut kehilangan sang kejujuran, teladan Kanaya Apsari? Entahlah. Yang Naya tahu, sebentar lagi dia harus merelakan sang kejujuran itu kembali pada Tuhannya. Sekali lagi ditatapnya jenasah sang bunda yang terbaring kaku. Gaun merah muda  berenda itu cantik membalut tubuh sang bunda. Beberapa buket bunga dihias dalam petinya. Sungguh, bak putri tidur  yang menantikan sang pangeran berkuda. “Engkau Cantik, Ibu”, batinnya. Naya meraih sebuah bungkusan yang terletak di kursi. Tangannya dengan sigap membuka plastik pembungkusnya. Perlahan dia meletakannya tepat di samping kaki sang bunda yang terbungkus kaos kaki putih. Tak kuasa Naya menahan air mata. Air matanya deras mengalir, menetes, membasahi tepian peti sang bunda.  Lirih suara terucap dari bibir Naya, “Ibu, ini akan menemani  langkah Ibu ke Surga”.  Dirapikannya posisi sepasang sepatu Merah Maroon, permintaan terakhir sang bunda. Lalu, dalam hitungan detik, tubuhnya sempoyongan. Pandangannya kabur. Naya rebah di sisi peti sang bunda. Dalam hening dan gelapnya semesta,   terdengar bisikan kalbu..“Selamat Jalan Sang Kejujuran”.


2 comments:

evaliebe kenzer said...

kau membasahi pipiku, dutch...
mama sudah senang dengan Tuhan, buatlah yang jujur supaya bisa ketemu beliau nanti...

Deec_Na_Deec said...

hahaahha b mo menulis. Amin :)