3.1.15

#Quote 6

KEHIDUPAN INI ADALAH SOAL PENERIMAAN. PADA AKHIRNYA SEMUA HANYA BUTUH MENERIMA DAN DITERIMA.

LIFE IS ABOUT ACCEPTANCE. EVENTUALLY THE ONLY THING YOU NEED IS TO ACCEPT OR TO BE ACCEPTED.

1.1.15

Sang Kejujuran

“Ibu..kondisi ayah baik-baik saja kan?”, sebuah pesan singkat dikirimnya pada sang bunda. Gelisah. Begitulah suasana hatinya sore ini. “Iya, nduk.”  Begitu saja sms balasan sang bunda. Jawaban pendek ini serasa tak cukup untuk menenangkan kegelisahan hatinya. Tapi, jawaban ini dari ibu. Kejujurannya selama ini menjadi teladan bagi anak gadis bungsunya. Ibu selalu jujur. Ibu tak mungkin berbohong. Ayah pasti baik-baik saja. Ia menepis semua kegelisahan di hati dan melangkahkan kaki berlalu dari gedung gereja tua itu. Hujan rintik-rintik mengiringi langkahnya. Basah.

Kenapa langit seolah menangis?  Sejak sore tadi, tetesan-tetesan air hujan tak berhenti membasahi bumi. Jangan-jangan Tuhan sudah membisikkan kisah ini pada langit?  Dia duduk membisu. Matanya menatap sebuah paket kecil dari sang bunda. “Ibu memang paling mengerti”, batinnya sambil tersenyum. Tiba-tiba dering ponsel mengalihkan perhatiannya. Lalu sekian detik kemudian, suara dari ujung ponsel itu menyisakan tanya di hati. Sang kawan baru saja memutuskan pembicaraan dengan panik dan gagap. Saraf-saraf gadis ini mulai menegang. Sel-sel otaknya mulai bekerja keras mencari jawaban dari kepanikan yang ditinggalkan tadi. Detak jantungnya semakin kencang. Darahnya mengalir deras. Napasnya memburu. Adrenalinnya meningkat tajam.  “Ibu”. Satu-satunya jawaban paling jujur saat ini. Tak perlu waktu lama untuk menekan tombol dial di ponselnya. Tut..tut..tut.., nada ini berulang terus, tanpa jawaban sang empunya ponsel. Sekali..dua kali.. tiga kali..dan entah sampai berapa kali dia mengulang terus panggilan di ponselnya. Gelisah semakin menusuk tajam relung hatinya. Sang jawaban paling jujur enggan menjawab saat ini. Dimanakah Dia? Apakah saat ini dia sedang menemani kekasih hatinya? Ataukah saat ini dia sedang meratapi kepergian kekasih hatinya? Ayah, apakah engkau telah pergi? Ayah, apakah engkau telah meninggalkan ku? Jawaban paling jujur itu enggan menjawab ku, Ayah.  Gadis ini gelisah. Tanpa jawaban.  Mengapa semua orang membohongi ku?  Mengapa mereka senang jika aku gelisah? Lalu, engkau Ibu, apakah engkau juga senang jika aku gelisah? Engkau satu-satunya jawaban terjujur saat ini. Kejujuran mu yang selama ini kukagumi dan ku teladani. Tapi mengapa engkau enggan menjawab ku? Ibu, apakah kejujuran mu sudah mulai luntur?  Tidak. Aku tak yakin itu. Ibu, engkau terlalu jujur untuk sanggup berbohong. Bahkan di saat harus berbohong pun, engkau tetap jujur. Lalu mengapa Ibu? Mengapa saat ini engkau enggan jujur pada ku? 

Semua pertanyaannya berhenti di detik ini. Air mata menetes dari kedua bola matanya. Perlahan mengalir melewati kedua lesung pipinya. Menetes. Jatuh membasahi seprei biru muda yang membungkus ranjangnya. Tangannya masih menggenggam ponsel yang masih bersuara. Suara itu masih meneriakan namanya,  Naya. Naya hanya diam membisu. Air matanya tak berhenti menetes, seirama dengan tetesan hujan yang masih membasahi bumi. Warna kelabu di langit Bandung sore ini, semendung hati Naya. Bunyi guruh di ujung langit dan kilatan petir menyatu menjadi sebuah melodi duka. Jawaban jujur dari ponsel tadi, menghujam tajam menusuk ulu hati Naya. Pedih. Sakit teriris sembilu. Ibu, mengapa bukan engkau yang menjawab ku?  Mengapa jawaban jujur ini bukan dari mulut mu Ibu?  Direbahkannya tubuhnya ke ranjang. Kedua tangannya memeluk erat guling biru mudanya. Dia memejamkan mata dan melayangkan pikirannya jauh. Kini, kejujuran itu terbujur kaku. Dingin. Tanpa nyawa. Jawaban jujur itu  tak lagi bersuara. Diam. Satu-satunya kejujuran yang tersisa bagi Naya sore ini adalah ibunya telah tiada.

Ibu, engkau teladan kejujuran bagi ku. Sejak kecil, engkau selalu mengajarkan arti sebuah kejujuran. Jujur adalah kewajiban dan keharusan. Tak bisa ditawar dan dibeli dengan apapun juga. Semua kejujuran mu jujur dari hati, ibu. Dengan kejujuran mu, engkau menikahi ayah ku. Dengan kejujuran mu, engkau membesarkan aku dan kakak ku. Dengan kejujuran juga engkau mengabdi pada keluarga mu, lalu pada negara mu, dan yang paling utama pada Tuhan mu. Ibu,engkau telah banyak menabur benih kejujuran dalam hidupmu. Tapi, kau berbohong sekali pada ku. Engkau bahkan tak jujur tentang sakit mu, Ibu. Apakah engkau jujur dalam diam? Kalau benar begitu, aku ingin engkau berbohong saja, agar engkau tetap hidup bersama ku. Bohong mu tak akan melunturkan kejujuran mu. Ibu, percakapan malam kemarin, masih jelas di memori ku. Engkau dengan jujur mengutarakan semua keinginan mu pada ku. Iya ibu, soal lanjut sekolah, soal beli sepatu, soal ayah, soal rajin berdoa, dan sebuah ucapan jujur dari mu saat ku ingatkan engkau untuk berdoa bagi ku. Ah, aku masih ingat dengan jelas ibu, saat dengan jujur engkau berkata “Aku akan selalu mendoakan mu nak, layaknya lagu Di Doa Ibu ku, Nama ku Disebut.” Itu terlalu jujur, Ibu. Sungguh, itu ucapan terjujur mu pada ku,bahkan di penghujung usia mu. Ibu, ijinkan aku kali ini jujur pada mu. Jujur aku sungguh mencintaimu, Ibu. Engkau wanita terhebat dalam hidup ku. Kejujuran mu teladan bagi ku. Tuhan, terimalah Ibu di sisimu. Peluklah dia dalam damai Mu. Terima Kasih mengijinkan aku memanggilnya, Ibu. Amin. Tangannya masih terlipat. Naya membuka matanya yang masih sembap. Pandangannya yang agak kabur menatap langit Bandung yang mulai gelap dari jendela kamarnya. Malam menghampirinya.

Langkahnya gontai. Tatapannya kosong. Ini bagaikan mimpi bagi Naya. Malam kemarin dia bahkan masih berbincang dengan sang bunda. Tapi kini, dia sedang melangkah menuju sang kejujuran yang terbaring kaku tanpa nyawa. Isak tangis keluarga menyambutnya saat memasuki rumah. Dia kembali ke Solo membawa duka mendalam. “Ibu...”, lirih suaranya memanggil sang bunda yang telah terbaring kaku dalam peti jenasah. Tangannya menyentuh pipi sang bunda. Cantik. Tapi dingin dan kaku bak pualam. Tetesan air matanya menetes tepat di kelopak mata sang bunda, saat dia menunduk menciumnya. “Ibu, Naya pulang. Kenapa Ibu pergi tinggalkan Naya?”, isak tangisnya semakin tak tertahan. Tubuhnya sempoyongan. Matanya gelap. Tiba-tiba lengannya diapit kencang. Beberapa kerabat kemudian mendudukannya tepat di samping peti jenasah sang bunda. Matanya menyapu seluruh isi ruangan itu. Kakaknya terlihat di sudut sana, terisak di bahu tantenya. Ayah? Di mana ayah? Sosok lelaki tua itu tak dia jumpai di ruangan ini. Ayah kemana? Apakah ayah baik-baik saja?  Di kamar itu,  ayah terbaring lemas. Air matanya mengalir deras, saat tatapannya menangkap bayangan Naya di depan pintu kamar. Isak tangisnya tak sedikitpun mengeluarkan suara. “Naya..”, terbata-bata dia menyebut nama anak gadis bungsunya. Tuhan, tidakkah Engkau merasakan penderitaan lelaki tua ini? Apa rasanya kehilangan sang kekasih hati di saat tubuh ini sedang tak berdaya? Bukan tubuhnya saja yang tak berdaya, perasaannya pun tak berdaya merelakan kepergian belahan jiwanya. Tuhan, apakah Engkau sekejam itu?  Dipeluknya sang ayah. Sambil terisak dibisikan di telinga ayahnya, “Naya, sayang ayah..”.

Mendung menggelayut di langit Solo, sore ini. Apakah alam ikut bersedih? Apakah alam ikut kehilangan sang kejujuran, teladan Kanaya Apsari? Entahlah. Yang Naya tahu, sebentar lagi dia harus merelakan sang kejujuran itu kembali pada Tuhannya. Sekali lagi ditatapnya jenasah sang bunda yang terbaring kaku. Gaun merah muda  berenda itu cantik membalut tubuh sang bunda. Beberapa buket bunga dihias dalam petinya. Sungguh, bak putri tidur  yang menantikan sang pangeran berkuda. “Engkau Cantik, Ibu”, batinnya. Naya meraih sebuah bungkusan yang terletak di kursi. Tangannya dengan sigap membuka plastik pembungkusnya. Perlahan dia meletakannya tepat di samping kaki sang bunda yang terbungkus kaos kaki putih. Tak kuasa Naya menahan air mata. Air matanya deras mengalir, menetes, membasahi tepian peti sang bunda.  Lirih suara terucap dari bibir Naya, “Ibu, ini akan menemani  langkah Ibu ke Surga”.  Dirapikannya posisi sepasang sepatu Merah Maroon, permintaan terakhir sang bunda. Lalu, dalam hitungan detik, tubuhnya sempoyongan. Pandangannya kabur. Naya rebah di sisi peti sang bunda. Dalam hening dan gelapnya semesta,   terdengar bisikan kalbu..“Selamat Jalan Sang Kejujuran”.


Sepucuk Surat Untuk Kekasih

Hi kekasih..
Rindu ini menanyakan mu..
Diri ku sendiri enggan memikirkan mu..
Tapi rindu ini tak kuasa menahan hasratnya..
Memikirkan mu..
Menanyakan mu..
Menunggu kabar mu..
Ah.. rindu ini memang selalu diluar kendali..

Baiklah..intronya cukup sekian.
Sejujurnya aku malu menuliskan ini..
Tapi rindu dan hasratnya terus saja  mendorong ku  melakukan hal ini..
Melakukan apa..?
Menulis  tentang apa yang tak bisa terkatakan!!
Menulis tentang bagian-bagian hidup yang kau beri makna..
Namun belum bisa ku katakan..
Belum bisa kuceritakan..
Ah.. rindu ini memang menyiksa, Kasih...

Bibir ku kelu untuk mengatakannya..
Jari-jari ku bahkan terlalu kaku untuk mengajakmu bercerita..
Aku sendiri  tak tahu entah kenapa..
Keberanian ku ada di bawah titik 0 derajat celcius..
Membeku..
Keras dan dingin bagai bongkahan es..
Namun, hanya rindu ini yang cukup hangat..
Hasratnya bahkan memberanikan ku menulis semua ini..
Menulis semua yang tak terkatakan..

Dirimu, satu dari yang  tak pernah terpikirkan..
Dirimu adalah sebuah kebetulan..
Yang tak terbayangkan.. tapi ditakdirkan..
Ya, aku menyebutnya SERENDIPITY.
Kebetulan yang ditakdirkan..
Datang tak dijemput.. tapi tak pernah mau pulang..
Ah, dirimu itu SERENDIPITY bukan JALANGKUNG..
Hasrat ini merindukan bercanda dengan mu, Kasih..

Sebentar ku pejam mata ini..
Perlahan ku acak-acak lagi memori otak ku..
Mengingat semua rekaman peristiwa bersama mu..
Peristiwa yang sepertinya belum pernah ada..
Namun memberikan sejuta makna di hidup ku..
Hei, cuma kita berdua kan yang tahu rahasia ini?
17 Agustus itu Hari Kemerdekaan Indonesia kan?
Ya, kayaknya tanggal itu cukup bagus agar dirayakan seluruh rakyat Indonesia.
Deal? Ya, Deal. Bagaikan kontrak kerja 2 perusahaan.
Lalu..
Kau mulai merasuki semua hidup ku..
Bahkan sampai di titik terliar ku..
Tak pernah ku katakan bukan, Kasih?
Ya, ku akui.

Sungguh kau ku kagumi..
Diluar semua kemanusiaan mu dan cela mu..
Cinta mu pada Tuhan mu sungguh membuat ku kagum..
Kau bahkan bagaikan sesosok Malaikat surga..
Dan menghadapkan mu dengan ku..
Bagaikan menghadapkan Malaikat dan Iblis..
Hati ku penuh kepahitan..kecemasan..rasa takut yang tak berbatas..
Jauh..jauh rasanya..
Tapi, Cintamu pada Tuhan mu..membuatku jatuh pada mu..
Kau, bagaikan Daud yang memukul kalah Goliath..
Perlahan menghancurkan monster dalam diri ku..
Dan akhirnya ku sadari..
Aku jatuh..
Jatuh hati pada Tuhan ku dan diri mu di saat yang bersamaan..
Kau bawa aku kembali ke Tuhan ku..

“Sukacita itu..harus dari dalam diri...
Jadi, jika ada sesuatu yang buruk terjadi..
Kita bisa tetap bersukacita.. karena sukacita kita dari dalam.. bukan dari luar..”
Masih  tersimpan jelas  dalam memori ku..
Lalu kau bilang..
“Buang semua kepahitan..karena itu mencemari hati kita..
Ampuni semua yang menganiaya, karena itu kewajiban kita..
Mengasihi adalah  kewajiban dan keharusan..”
Kata-kata mu mampu menghipnotis semua sel otak ku..
Ironis bukan? Itulah keadaannya.
Aku bahkan kagum dengan keteguhan iman mu..
Cinta mu pada Tuhan mu.. membuat langkah mu serasa pasti..
Aku selalu bilang “You are on the track”..  Ingat?
Kata-kata itu sebenarnya sedang menyindir diri ku..
Diri ku yang sedang luntang-lantung.. terombang ambing tak jelas..
Belum sanggup meneguhkan hati.. memilih jalan hidup yang harus dilalui..
Di sini aku kemudian tersadar.. akulah yang meragu..
Bukan meragukan mu.. tapi meragukan jalan hidup ku..
Maafkan aku  yang  pernah meragu..

Lagi.. kupejamkan mata dan mengingat semua tentang mu..
Kau begitu mencintai si kulit bundar..
Bahkan kadang aku cemburu saat kau lebih perhatian padanya..
Mungkinkah kita bisa ke Rusia 2018 nanti? Ah, mimpi itu..
Oh iya, sekolah bola itu? Semoga menjadi kenyataan.
Kau motivator yang hebat..Mario Teguh sepertinya harus tahu itu..
Kau penyuka puding..warna biru..makanan mu harus berkuah..
Tapi, kau pelupa. Harus diingatkan beberapa kali.
Kau bilang, kau cuek. Tapi aku tak pernah percaya itu..
Aku lebih percaya, jauh dalam dirimu kau sangat peduli..
Kau bilang, mereka bilang kau tak peka..
Tapi aku percaya kau sangat peka..
Hanya saja..bagi mu..
Semua dalam hidup ini terlalu sederhana untuk diribetkan..
Yang terlalu memusingkan..tinggalkan saja..
Kau begitu kan, Kasih?
Mungkin tak banyak aku mengerti tentang mu..

Kasih...
Di penghujung tahun ini..
Ijinkan aku ucapkan Terima Kasih..
Entah berapa banyak Terima Kasih yang bisa ku ucapkan pada mu..
Terima kasih pada Tuhan mu..
Aku bersyukur.. Dia menghadirkan mu dalam hidup ku..
Di sini.. di penghujung semua ini..aku mengerti..
Tuhan mu menghadirkan mu dalam hidup ku..agar aku kembali kepada Tuhan ku..
Agar aku mencintai lagi Tuhan kita. Tuhan yang tak pernah berhenti mencintai ku..
You did it. Menyelamatkan satu jiwa yang hampir terhilang..
Aku kembali ke track ku.. Jalan hidup ku telah ku pilih, Kasih..
Berbagi bagi mereka yang membutuhkan..
Ada bagi mereka yang tertindas..
Dan menyatakan Kasih Tuhan kita bagi mereka yang terpinggirkan..
Cinta mu dan keteguhan Iman mu pada Tuhan, membawa ku kembali pada-Nya..
Aku mengerti..itulah mengapa kita dipertemukan..
Selalu ada alasan Tuhan menghadirkan seseorang dalam hidup kita..
Inilah alasannya..alasan yang akhirnya kupahami..

Kini..
Ijinkan aku  menghaturkan Maaf..
Maafkan aku yang banyak tak jujur pada mu..
Maafkan aku yang menggenggammu terlalu erat dan takut membebaskanmu..
Di penghujung semua ini.. Ku bebaskan kau pergi..
Menggapai semua impian dan mimpi mu..
Tuhan..akan memeluk semua mimpi..hasrat dan impian-impian mu..
Ladang mu telah menanti, Kasih. Banyak tuaian yang harus kau tuai..
Tangan Tuhan akan menggenggam mu erat..
Roh-Nya akan menuntun langkah mu tetap..
Dan doa ku menyertaimu dalam senyap..
Yakin ku.. esok hari kau akan jadi Prianya Tuhan yang hebat..
Pergilah.. Kasih..
Jalanilah tahun yang baru dalam hidupmu..
Tuhan mengasihimu.

NB:  Jangan lupa minum air putih dan baca Firman Tuhan.

 Selamat Tahun Baru!! Kuucapkan dalam diam ku.
 #DVAT