Arloji
di tangan ku saat itu menunjukkan pukul 20.00. Gerimis mulai turun
membasahi bumi. Aku perlahan tapi pasti memacu motor ku, melewati jalan-jalan yang masih sangat ramai, menuju
rumah. Di tengah hiruk-pikuk pedagang jajanan malam dan sibuknya lalu lintas di
persimpangan itu, tiba-tiba mata ku menangkap sesosok bayangan kecil. Berdiri
di tepi jalan dekat sebuah halte, sambil melambai-lambaikan tangan kanannya.
Tak jelas apa yang sedang dipegangnya di tangan kiri. Motorku melintas tepat
dihadapannya. Samar terdengar, berlomba dengan derunya angin, ku dengar dia
berkata “pulang”.
Motor
terus ku pacu, tak ada niat sedikit pun untuk berhenti. Sampai kira-kira 50m
dari tempat bocah itu berdiri, hati dan pikiran ku kompak menghentikan pacuan
motorku. Antara iba dan penasaran, aku memutuskan untuk memutar balik motor ku.
Dengan sedikit bersusah payah karena deretan motor yang terparkir di tepi
jalan, aku memutar balik arah motor ku, melawan arus lalu lintas dan menuju bocah
itu. Dari kejauhan nampak dia masih melambai-lambaikan tangannya.
Semakin
dekat, tampaklah apa yang dipegang
di tangan kirinya. Setumpuk Koran. Aku kemudian berhenti tepat
di sampingnya dan bertanya.
“Mau kemana dek?
Pulang?”.
“Mau numpang kak.
Ke Bukit Barisan”, jawabnya.
“Pulang?”,
tanyaku lagi.
“Mau jualan Koran
kak”.
Jawaban polos darinya membuat ku semakin iba.
Hari sudah malam, sebentar lagi hujan deras akan mengguyur bumi, tapi bocah
kecil ini masih berjuang dengan Koran-korannya. Tanpa pikir panjang, aku langsung
memutar balik motor ku, dan memberi dia tumpangan.
Sepanjang perjalanan, aku menjawab rasa penasaran ku
dengan bertanya-tanya tentang dirinya.
“Siapa namanya?”,
aku memulai percakapan kami.
“Raihan”,
begitu dia menjawab ku.
“Raihan tinggal di
mana?”
Suara kecilnya yang berlomba
dengan derunya angin karena motor yang ku pacu serta helm yang kupakai, membuat
ku tak mendengar jelas jawabannya.
“Raihan sekolah di mana?”, tanya ku
lagi.
“Di jalan Surabaya
kak”.
“Kelas berapa?”
“Kelas 5 kak”.
“Raihan umur
berapa sekarang?”
“Umur 11 tahun”.
“Udah lama Raihan
jualan Koran?”
“Udah 2 tahun
kak”, jawabnya dengan ikhlas tanpa tersirat sedikitpun nada keluhan.
Jleb!! Udah 2 tahun bocah
kelas 5 ini berjualan Koran. Kemana ayah dan ibunya, pikirku.
“Emang, Ayah dan
ibu dimana? Koq, Raihan yang jualan?”, tanya ku lagi.
“Ayah dan Ibu sudah pisah. Raihan tinggal
sama Ibu. Ayah tak tau dimana. Ibu juga jualan Koran, tapi siang. Kalau malam
ibu di rumah kawani adek-adek. Adek Raihan 2, laki-laki juga”, dengan sopan
dia menjawab tanya ku.
“Jadi kalau Raihan
berangkat jam segini, jam berapa Raihan pulang?”,
aku semakin tertarik mendengar kisah bocah ini.
“Pulangnya nanti
jam 12 kak, tapi kadang jam 1 atau jam 2”.
Oh Tuhan, miris sekali kudengar
penuturan bocah ini. Di saat aku biasanya sudah terlelap di bawah selimut
hangat, dia masih berjuang menjajakan korannya tanpa kepastian laku atau tidak.
“ Macam mana nanti pulangnya?”, tanya ku
lagi.
“Biasanya numpang juga sama yang mau beri
tumpangan.”
Terlintas lagi di pikiran ku
bagaimana bocah kecil ini melambai-lambaikan tangan meminta tumpangan tadi. Di tengah keramaian dan hiruk pikuk orang ke sana
kemari, tak ada satu pun yang peduli padanya. Miris
rasanya. Di saat anak-anak yang lain telah tidur berselimutkan mimpi, anak ini
masih berjuang demi hidupnya. Entah apa yang dirasakannya. Kalau dia bisa
memilih, mungkin dia tak ingin hidup seperti ini.
Motor
yang kupacu semakin mendekati tempat tujuan bocah ini.
“Berhentinya di Ind***ret aja kak”, pintanya.
“Raihan udah makan malam?”, tanyaku
padanya.
“Belum kak. Nanti pulang baru makan”,
begitu jawabnya.
Aku terdiam. Tak sanggup lagi aku
bertanya. Membayangkan pengorbanan bocah kecil ini, hati ku terenyuh.
Kuhentikan motor tepat di depan Ind***ret sesuai permintaannya. Dengan sigap
dia melompat turun dari boncengan ku.
“Terima Kasih ya kak”, ucapnya tulus.
Aku merogoh kantong kecil dalam tas
ku, dan mengeluarkan selembar sepuluh ribuan.
“Ini ya, buat makan Raihan nanti”, kata
ku sambil menatap mata sayu miliknya.
“Iya. Terima Kasih ya kak”, seulas
senyum terpancar di wajah mungilnya.
“Sama-sama, hati-hati ya.”
“Iya, kak.”
Dia
pun berbalik membelakangi ku, dan berlari menuju Ind***ret. Aku belum beranjak dari tempat itu. Aku masih
terpaku menatapnya. Menatapnya berlari dan kemudian bercanda dengan beberapa
pegawai Ind***ret yang tampaknya sudah dikenalnya dengan baik. Tak nampak keluhan
atau penyesalan di wajahnya, karena tak seberuntung anak-anak yang lain. “Hebat
kau nak!!”, pikir ku dalam hati.
Motor kuhidupkan, di antara gerimis hujan, aku
pun berlalu dengan rasa syukur. Terima Kasih Raihan, kau mengajari ku sesuatu malam ini. Hidup ini perjuangan, kawan. Kita
tidak dilahirkan untuk memilih nasib kita. Namun kita bisa memilih bagaimana cara
kita menjalani hidup. Susah senang hidup ini, keras
lembutnya perjalanan ini, tetap harus dilalui. Harus ada pengorbanan untuk setiap perjuangan yang kita
lakukan. Sekali lagi, terima kasih Raihan. Semoga masih ada kesempatan kita
bertemu lagi. Oh iya, Selamat hari anak
sedunia. Semoga di esok hari, dunia
mu akan lebih indah Raihan.
Pekanbaru, 20 November 2014.
Didedikasikan untuk anak penjual Koran yang bertemu semalam, Raihan.


