20.11.14

Namanya Raihan...


             Arloji di tangan ku saat itu menunjukkan pukul 20.00. Gerimis mulai turun membasahi bumi. Aku perlahan tapi pasti memacu motor ku, melewati  jalan-jalan yang masih sangat ramai, menuju rumah. Di tengah hiruk-pikuk pedagang jajanan malam dan sibuknya lalu lintas di persimpangan itu, tiba-tiba mata ku menangkap sesosok bayangan kecil. Berdiri di tepi jalan dekat sebuah halte, sambil melambai-lambaikan tangan kanannya. Tak jelas apa yang sedang dipegangnya di tangan kiri. Motorku melintas tepat dihadapannya. Samar terdengar, berlomba dengan derunya angin, ku dengar dia berkata “pulang”
            Motor terus ku pacu, tak ada niat sedikit pun untuk berhenti. Sampai kira-kira 50m dari tempat bocah itu berdiri, hati dan pikiran ku kompak menghentikan pacuan motorku. Antara iba dan penasaran, aku memutuskan untuk memutar balik motor ku. Dengan sedikit bersusah payah karena deretan motor yang terparkir di tepi jalan, aku memutar balik arah motor ku, melawan arus lalu lintas dan menuju bocah itu. Dari kejauhan nampak dia masih melambai-lambaikan tangannya.
             Semakin dekat, tampaklah apa yang dipegang di tangan kirinya. Setumpuk Koran. Aku kemudian berhenti tepat di sampingnya dan bertanya.
             “Mau kemana dek? Pulang?”.
             “Mau numpang kak. Ke Bukit Barisan”, jawabnya.
             “Pulang?”, tanyaku lagi.
             “Mau jualan Koran kak”.
Jawaban polos darinya membuat ku semakin iba. Hari sudah malam, sebentar lagi hujan deras akan mengguyur bumi, tapi bocah kecil ini masih berjuang dengan Koran-korannya. Tanpa pikir panjang, aku langsung memutar balik motor ku, dan memberi dia tumpangan.
             Sepanjang perjalanan, aku menjawab rasa penasaran ku dengan bertanya-tanya tentang dirinya.
             “Siapa namanya?”, aku memulai percakapan kami.
             “Raihan”, begitu dia menjawab ku.
             “Raihan tinggal di mana?”
Suara kecilnya yang berlomba dengan derunya angin karena motor yang ku pacu serta helm yang kupakai, membuat ku tak mendengar jelas jawabannya.
             “Raihan sekolah di mana?”, tanya ku lagi.
             “Di jalan Surabaya kak”.
             “Kelas berapa?”
             “Kelas 5 kak”.
             “Raihan umur berapa sekarang?”
             “Umur 11 tahun”.
             “Udah lama Raihan jualan Koran?”
             “Udah 2 tahun kak”, jawabnya dengan ikhlas tanpa tersirat sedikitpun nada keluhan.
Jleb!! Udah 2 tahun bocah kelas 5 ini berjualan Koran. Kemana ayah dan ibunya, pikirku.
             “Emang, Ayah dan ibu dimana? Koq, Raihan yang jualan?”, tanya ku lagi.
           “Ayah dan Ibu sudah pisah. Raihan tinggal sama Ibu. Ayah tak tau dimana. Ibu juga jualan Koran, tapi siang. Kalau malam ibu di rumah kawani adek-adek. Adek Raihan 2, laki-laki juga”, dengan sopan dia menjawab tanya ku.
             “Jadi kalau Raihan berangkat jam segini, jam berapa Raihan pulang?”, aku semakin tertarik mendengar kisah bocah ini.
             “Pulangnya nanti jam 12 kak, tapi kadang jam 1 atau jam 2”.
Oh Tuhan, miris sekali kudengar penuturan bocah ini. Di saat aku biasanya sudah terlelap di bawah selimut hangat, dia masih berjuang menjajakan korannya tanpa kepastian laku atau tidak.
             “ Macam mana nanti pulangnya?”, tanya ku lagi.
             “Biasanya numpang juga sama yang mau beri tumpangan.”
Terlintas lagi di pikiran ku bagaimana bocah kecil ini melambai-lambaikan tangan meminta tumpangan tadi. Di tengah keramaian dan hiruk pikuk orang ke sana kemari, tak ada satu pun yang peduli padanya. Miris rasanya. Di saat anak-anak yang lain telah tidur berselimutkan mimpi, anak ini masih berjuang demi hidupnya. Entah apa yang dirasakannya. Kalau dia bisa memilih, mungkin dia tak ingin hidup seperti ini.
             Motor yang kupacu semakin mendekati tempat tujuan bocah ini.
             “Berhentinya di Ind***ret aja kak”, pintanya.
             “Raihan udah makan malam?”, tanyaku padanya.
             “Belum kak. Nanti pulang baru makan”, begitu jawabnya.
Aku terdiam. Tak sanggup lagi aku bertanya. Membayangkan pengorbanan bocah kecil ini, hati ku terenyuh. Kuhentikan motor tepat di depan Ind***ret sesuai permintaannya. Dengan sigap dia melompat turun dari boncengan ku.
             “Terima Kasih ya kak”, ucapnya tulus.
Aku merogoh kantong kecil dalam tas ku, dan mengeluarkan selembar sepuluh ribuan.
             “Ini ya, buat makan Raihan nanti”, kata ku sambil menatap mata sayu miliknya.
             “Iya. Terima Kasih ya kak”, seulas senyum terpancar di wajah mungilnya.
             “Sama-sama, hati-hati ya.”
             “Iya, kak.”
             Dia pun berbalik membelakangi ku, dan berlari menuju Ind***ret.  Aku belum beranjak dari tempat itu. Aku masih terpaku menatapnya. Menatapnya berlari dan kemudian bercanda dengan beberapa pegawai Ind***ret yang tampaknya sudah dikenalnya dengan baik. Tak nampak keluhan atau penyesalan di wajahnya, karena tak seberuntung anak-anak yang lain. “Hebat  kau nak!!”, pikir ku dalam hati.
              Motor kuhidupkan, di antara gerimis hujan, aku pun berlalu dengan rasa syukur. Terima Kasih Raihan, kau mengajari ku sesuatu malam ini. Hidup ini perjuangan, kawan. Kita tidak dilahirkan untuk memilih nasib kita. Namun kita bisa memilih bagaimana cara kita menjalani hidup. Susah senang hidup ini, keras lembutnya perjalanan ini, tetap harus dilalui. Harus ada  pengorbanan untuk setiap perjuangan yang kita lakukan. Sekali lagi, terima kasih Raihan. Semoga masih ada kesempatan kita bertemu lagi. Oh iya, Selamat hari anak sedunia. Semoga di esok hari, dunia mu akan lebih indah Raihan.

Pekanbaru, 20 November 2014.

Didedikasikan untuk anak penjual Koran yang bertemu semalam, Raihan.

23.2.14

~Gentleman's Dignity~

#Gudang Beras-Kulim, 22:47

Lama sekali rasanya saya tak meninggalkan jejak di lembaran diary elektrik ini. Mungkin banyak yang penasaran, dimana saat ini saya berada. Atau mungkin juga tak ada yang mempertanyakan keberadaan saya. Hahaha Ironis memang!! Well, jadi isi postingan ini akan diawali dengan informasi tentang keberadaan saya. Agak kurang penting memang, tapi paling tidak mengobati rasa penasaran para pembaca sekalian (ragu juga emang ada yang baca? Kalau dibaca tolong komen ya!!Thank You).   Ok, untuk informasi awal, saat ini saya berada di salah satu titik Pulau Sumatera, Provinsi Riau tepatnya, lebih tepatnya lagi kota Pekanbaru, lebih lebih tepatnya lagi Kec. Tenayan Raya dan.. ah saya rasa alamat lengkap tak perlu saya sebutkan. Ketakutan terbesar saya, akan banyak kiriman hadiah dari fans-fans saya di seluruh penjuru dunia (Ngarep aja bisanya-sambil ketawa guling-guling). Ok, singkat kata singkat cerita, saya sedang berada di suatu tempat yang bernama Kulim (silahkan googling sendiri), untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab saya sebagai aparat negara yang bekerja untuk masyarakat. Ah berasa layaknya pejabat Gubernur Riau. :D  Well, cukup doakan semoga saya baik-baik di sini sampai berakhir masa kontrak saya selama 2 tahun ya. AMIN!!
Selanjutnya, kenapa tiba-tiba saya menulis postingan baru??  Padahal kolom-kolom diary elektrik  ini nampaknya telah tertutup debu karena ditinggal nyonya rumahnya. Karena saya ingin menulis!! Itu saja jawabannya, tak ada yang lain. Sekitar satu jam yang lalu, saya baru saja menyelesaikan sebuah serial Korea berjudul “Gentleman's Dignity”. Hasil rekomendasi kedua sahabat saya yang dengan rela mengirimkan serial ini dalam bentuk DVD, meskipun dengan ongkir yang tak sedikit. Saya ingin mengucapkan terima kasih dari lubuk hati yang paling dalam kepada Rahelita F.S.Modokh dan Arly E.M de Haan. Terima kasih sobat!!  Bagaimana rekomendasi mereka??  Katanya, film ini cocok untuk mereka-mereka yang masih single di marriage age. Ok, saya merasa salah satu dari mereka-mereka itu. Jadi, dengan semangat 45, tak perlu waktu lama untuk akhirnya menyelesaikan serial 20 episode ini. Tapi maaf, saya cukup lelah untuk menceritakan detailnya, jadi yang penasaran silahkan ditonton sendiri. Recommended  bagi para single di marriage age.
Apa pelajarannya??
1.      Tak pernah ada  kata terlambat untuk menikah!! Lho?? Harusnya kan tak ada kata terlambat untuk belajar. Ya,  sebagian besar pola pikir orang Indonesia dengan budaya Timurnya mengharuskan  semua wanita dan pria yang berstatus single untuk menikah di umur kurang dari 30 tahun (beda dengan orang Korea yang sebagian besar menikah di atas umur 30-Jang Dong Gun-Nama asli Kim Do Jin, menikah tahun 2010 pada umur 38 tahun). Bahkan ada yang baru menginjak umur 25, udah panas telinganya karena sering ditanya, koq belum menikah? Kapan menikah? Nanti jadi perawan dan perjaka tua, dsb. Sehingga, keadaan masih single di marriage age layaknya sebuah kutukan. Sangat dihindari, bahkan di sebagian daerah menjadi sebuah aib. Akibatnya banyak sekali mereka di umur  yang masih dibilang sangat muda, telah mengambil keputusan untuk menikah.  Belum cukup dewasa, belum sadar benar apa itu pernikahan, belum mengerti betul bagaimana membina rumah tangga, dan sama sekali belum mapan untuk membiayai keluarga. Ujung-ujungnya, perceraian menjadi pilihan satu-satunya saat pernikahan menghadapi masalah. So, belum menikah di umur lebih dari 25 tahun, sah-sah aja. Bahkan menikah di umur 41 tahun pun bukan merupakan sesuatu yang memalukan. Pernikahan bukan masalah umur. Pernikahan adalah bagaimana kesiapan anda untuk berkomitmen dan bertanggung jawab atas komitmen yang anda buat!!!
2.      Cinta tak memandang usia, tak memandang masa lalu. Cinta menerima apa adanya, bukan ada apanya!!!  Banyak orang tak sanggup mempertahankan cinta mereka hanya karena status sosial, karena perbedaan-perbedaan yang tak bisa dijembatani, bahkan juga karena masa lalu orang-orang yang mereka cintai.  Seo Yi Soo berhasil mempertahankan cintanya meskipun harus menerima kenyataan bahwa Kim Do Jin telah memiliki seorang anak dengan cinta pertamanya. Demikian pula Me Ah Ri dan Choi Yoon mampu mepersatukan cinta mereka meskipun perbedaan usia  17 tahun. Bagi banyak orang, mungkin hal ini hanya bisa terjadi dalam drama-drama percintaan. Tapi bukankah hidup ini juga merupakan sebuah panggung sandiwara?? Ah.. dimana-mana kalau ada niat, pasti ada jalan. ^^
3.      Sahabat itu mereka yang tertawa bersama anda di saat senang, dan menangis bersama anda di saat sedih.  Ikatan persahabatan yang ditunjukkan Kim Do Jin, Im Tae San, Choi Yoon dan Lee Jung Rok sedikit banyak bikin iri. Kenapa?  Ya, berharap bisa memiliki ikatan persahabatan seperti itu. Kapan pun dibutuhkan, selalu sedia. Bahkan di pagi-pagi buta untuk sebuah hal sepele pun tetap ada. Ah indahnya!!!  Kami berempat, 3 orang wanita dan 1 orang lelaki cantik. Umur persahabatan kami  tidak sebanyak mereka berempat di Gentleman’s Dignity. Meskipun demikian kami berharap memiliki persahabatan seperti itu. Saling memiliki, saling mengenal, saling mengerti, tapi tetap konyol dengan karakter masing-masing yang kami miliki. Seberapa jauh  pun kami terpisah, sahabat tetaplah sahabat. Meski telah bersama pasangan masing-masing, sahabat tetaplah sahabat. Selamanya!!
4.      The Fact :
         Saya sangat mengagumi Kim Do Jin!!! Dua sahabat saya pun demikian. Kim Do Jin bagaikan lelaki impian tiap wanita. ^^ Silahkan menonton dan menilai sendiri ^^

5.    Penampakannya :

Ki-Ka : Im Tae San, Kim Do Jin, Choi Yoon, Lee Jung Rok

Kim Do Jin.. Lelaki Impian DeeC, Rahel dan K' Arly

Scene Terfavorit!!! ^^ So Sweet!!