Aku ingin bercerita..
Tapi tak ada dia yang mendengarkan..
Entah dimana dia berada..
Sehatkah dia?
Baik-baik saja kah dia?
Ku harap dia baik-baik saja..
Ya, dia yang ku rindu..
Rindu dalam diam ku.
Hari ini hujan turun tanpa henti. Sejak pagi, sang surya seakan enggan menampakkan wajahnya. Langit ku mendung, gelap, tanpa sinar mentari. Bahkan saat malam datang, rembulan enggan menemani sang bintang. Gelap.. sepi.. hanya derasnya rintik hujan yang menemani ku melewati malam. Sendiri.. tanpa teman dan kawan.. ku rebahkan diri di kasur tua ku..kudendangkan lagu natal.. dan membiarkan jari-jari ini menari merangkai kata.
Ini Desember bukan kawan? Ah, ternyata ini bulan ke 12 di tahun ini, tahun 2012. Beberapa hari yang lalu, saat menginjakkan kaki di hari pertama bulan ini, ada sepenggal pikiran yang mengusik. "Ternyata bulan ini biasa saja seperti 11 bulan lainnya", begitu pikir ku. Kemudian ku sampaikan pikiran ini kepada seorang sobat di seberang sana. Ku bertanya, "kenapa bulan ini terasa biasa saja bagi ku? Bulan ini kehilangan keistimewaannya di hati ku. Kenapa?" Dia menjawab, "begitu pun dirinya. Mungkin kita sedang dalam penantian akan sesuatu yang baru. Saat yang dinanti tak kunjung datang, semua terasa biasa saja".
Entahlah, benar atau tidaknya, cuma aku yang merasakannya. Saat semua kawan berlomba mendapatkan tiket pesawat liburan ke kampung halaman, aku hanya menikmati antusiasme mereka. Saat mereka berlomba mendapatkan baju-baju dan sepatu natal, aku hanya merasakan semangat mereka. Baju natal dan sepatu natal tak lagi menjadi keharusan bagi ku. Tradisi itu perlahan ku tinggalkan. Kenapa? Di sini.. di sudut kamar ini..saraf-saraf otak ku bekerja, mengumpulkan semua memori dan kenangan. Mencari alasan-alasan mengapa Desember kehilangan daya magisnya dalam hidupku. Bagaikan seorang penyihir kehilangan manteranya, begitulah kekuatan Desember perlahan memudar dalam hidupku!!
Kususuri setapak-setapak kecil dalam labirin otak ku. Menemukan kembali kenangan Desember yang dulu. Desember yang selalu ku nanti, Desember yang selalu berkesan dan Desember yang selalu istimewa. Hari-hari di Desember tampaknya begitu spesial dibandingkan hari-hari lainnya. Selalu di nanti dan selalu di hati. Banyak cerita indah, kisah menarik dan suasana penuh kehangatan di Desember. Bagaikan seseorang menantikan kedatangan kekasihnya, begitu pun kunantikan kedatangan Desember. Damai, hangat, penuh kasih, penuh sukacita, penuh tawa bahagia, begitulah Desember ku dulu.
Tapi, Desember ku kini berubah menjadi kelabu. Tak lagi indah, tak lagi istimewa, tak ubahnya bulan-bulan lainnya. Ya, sejak mereka pergi dari hidup ku, Desember ku tak lagi indah. Mereka pergi membawa indahnya Desember, hangatnya Desember dan spesialnya Desember. Tak ada lagi yang ingin ku temui saat Desember tiba. Tak ada lagi suara merdu yang mengucapkan Selamat Ulang Tahun di Desember. Aku kemudian tersadar, mengapa aku tidak terlalu antusias untuk menikmati liburan di kampung halaman. Ternyata, tak ada lagi mereka yang bertanya "tanggal berapa pulang?". Semuanya sibuk dengan kehidupan mereka sendiri. Mereka yang kusebut keluarga pun, memiliki keluarga mereka sendiri. Apakah ini berarti aku membutuhkan sebuah keluarga baru? Ah, entahlah! Yang pasti kurasakan, aku kehilangan mereka dan Desember ku. Ingin sekali rasanya mengulang semua Desember ku yang telah berlalu sebelum mereka pergi. Hangat, penuh cinta kasih, damai dan tak tergantikan oleh bulan-bulan lainnya.
Welcome Desember..
Ku ucapkan selamat datang bagi mu..
Walaupun kau tak seindah dulu di hati ku..
Walaupun kau tak seistimewa dulu di hidup ku..
Tetaplah menjadi kenangan indah..
Hidup dan semarak diantara ribuan memori di otak ku..
Bersama mereka yang pernah ku cinta dan selamanya akan ku cinta..
Berharap kau kembali indah Desember ku..
No comments:
Post a Comment