30.9.12

Wake Up when September Ends

Pemirsaaa!! Met malem..!!
It's a last day on September... kayak lagunya greenday "Wake me up when September ends"..I woke up now... :))

Tadi saya baru saja melakukan ritual saya yang 2 minggu ini saya tinggalkan.. "NGEMOVIE". Iya sumpah, walaupun kerjaan masih numpuk, tapi hasrat NGEMOVIE itu ga bisa ditolak. Well, akhirnya 2 film saya habiskan dalam waktu kurang dari 4 jam :D Walaupun kali ini tontonan saya adalah film Indonesia, bukan film-film holywood kesukaan saya, tapi gpp lah, yang penting menyalurkan hasrat NGEMOVIE saya yang menggebu-gebu :)) *Saya gak suka film Indonesia yang isinya cuma horor-horor ga jelas dan yang berbau semi-pornografi menjijikan*

Sedikit waktu yang saya punya untuk bersantai dan berleha-leha, membuat saya tak sempat melakukan ritual NGEDONLOD sebelum ritual NGEMOVIE. Jadinya, saya hanya mencari website nonton Online untuk menyalurkan hasrat saya :)) Then, akhirnya saya pun menemukannya. Pilihan pertama saya jatuh pada sebuah film yang berjudul "SERDADU KUMBANG". Penasaran, karena saya tahu OST nya Serdadu Kumbang yang dinyanyikan Ipank. So, film ini pun masuk daftar antrian tontonan pertama. Film besutan rumah produksi Alenia karya sutradara Ari Sihasale ini menceritakan kisah tentang anak-anak di desa Mantar, Sumbawa dengan tiga tokoh utama Amek, Acan dan Umbe. *Gambaran ceritanya hampir mirip kisah Laskar Pelangi di Belitong*  Sinopsis ceritanya bisa dibaca di sini. Atau yang ingin nonton boleh liat  di sini. Ini saya berikan bonus trailernya bagi yang penasaran : :D

Nah, film kedua yang saya tonton adalah film dengan judul "CERITA DARI TAPAL BATAS". Milihnya juga random tuh pemirsaaa.. eh tau-taunya film masih dengan tema yang tak jauh beda. Penasaran pemirsa? neh saya bonuskan lagi trailernya :
Yang pengen nonton filmnya bisa ditonton di sini lagi.

___________________My  Review___________________

Eh, pertama-tama merasa bersyukur banget pemirsa. Mo dibilang lebay etc, terserah lah. Tapi emang, merasa bersyukur bisa nonton film begini dan masih ada film-film Indonesia yang kayak gini. Secara film-film sekarang lebih banyak yang negrusak akhlak anak-anak Indonesia, daripada yang membangun kayak film-film ini. Dari kedua film ini ada beberapa poin yang saya lihat.
1. Mirisnya potret PENDIDIKAN di INDONESIA. Indonesia tuh mana seh? Saya kemudian mempertanyakan yang disebut Negara Kesatuan Republik Indonesia itu yang mana saja? Bandingkan saja daerah-daerah di kedua film itu dengan daerah-daerah di Jawa. Bandingkan potret Pendidikan dua daerah itu dengan pendidikan di Jawa. Lihat sarana dan prasarana pendidikan mereka. Lihat fasilitas pendidikan mereka. Bahkan di film Serdadu Kumbang, lambang SD di saku baju seragam pun gak ada. Di film Cerita Dari Tapal Batas, sepatu sekolah pun gak punya. Jangankan fasilitas, guru selaku aktor pendidikan saja tak memadai. Apalagi ruang sekolah dan sarana lainnya. Mirisnya, mereka tetap setia menggunakan baju seragam yang berwarna Merah dan Putih, sebagaimana lambang bendera NKRI. Ironis sekali bukan? Seakan-akan, daerah-daerah yang jauh dari ibukota negara, bukanlah bagian dari NKRI. NKRI hanyalah Jawa dan beberapa daerah lain yang berhubungan langsung dengan Jawa. Sementara daerah-daerah di balik tingginya gunung, dibalik lebat dan rimbunnya hutan belantara, diantara derasnya air sungai, bukanlah bagian NKRI. Kenapa pembangunan ini tak merata? Bagaimana pembangunan akan merata, jika dana-dana pembangunan hanya untuk memenuhi saku-saku para elit tukang korupsi yang tak berperasaan!! Gak begitu mengherankan jika mereka di tapal-tapal batas negeri ini memilih mencari kehidupan di negeri tetangga. Di negeri sendiri mereka tak punya pilihan hidup. IRONIS!!
2. Semangat dan Kesetiaan Menuntut Ilmu
Lihat bagaimana semangat mereka belajar? Lihat kesetiaan mereka menuntut ilmu diantara sejuta kekurangan pendidikan yang disediakan bagi mereka? Amek udah berulang kali gagal lulus ujian karena sistem pendidikan yang tak seimbang dengan sarana dan prasarana yang disediakan. Menyamakan sistem pendidikan di daerah-daerah  yang jauh dari ibukota dengan sistem pendidikan di ibukota dan sekitarnya, tanpa meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan di daerah-daerah tersebut, bukankah sebuah perbuatan TOLOL yang dilakukan pemerintah? Ngomongnya meningkatkan SDM Indonesia, namun tidak dibarengi dengan usaha yang sepantasnya.. Ya, sia-sia. Yang ada kekecewaan yang dialami, bahkan tak jarang keputusan untuk mengakhiri hidup hanya karena tak lulus ujian nasional. Meskipun demikian, contohlah semangat anak-anak daerah yang semangat dna setia menuntut ilmu diantara sejuta kekurangan pendidikan mereka. Keadaan ini kontras sekali dengan peristiwa-peristiwa tawuran siswa yang belakangan ini ramai terjadi di ibukota. Lihat?? Sarana prasarana lengkap, fasilitas memadai, namun tanpa semangat dan kesetiaan menuntut ilmu, yang ada hanya tawuran yang berujung kematian siswa. Pendidikan biasa-biasa saja, bahkan mungkin tak bermakna sama sekali bagi mereka yang dengan mudah mendapatkannya. Sementara bagi mereka yang sulit mendapatkannya, pendidikan begitu berarti bahkan terlalu berarti untuk disia-siakan.

Lalu siapa yang salah????????????
Ah, seandainya para elit bersafari di gedung-gedung besar di ibukota sana diberikan kesempatan untuk menonton kedua film ini di sela-sela sidang paripurna mereka. *Mimpi*



Pemirsaaaaaaa!! Ini benar-benar dah "Wake me Up when September Ends". Semangat sosial saya bergelora. Saya kembali memikirkan ide-ide yang lama mengendap dalam kalbu. Akankah saya mewujudkannya pemirsaaaaaaa? Wait and See!! :D


NB: Bagi sineas-sineas muda atau tua di Indonesia, buat dong film yang berkualitas kayak gini. Jangan yang menjual horor yang aneh dan semi-pornografi yang menjijikan saja bisanya. Thanks. Hidup Perfiliman Indonesia.



Regard,
Seorang Pencinta dan Penikmat Film 

No comments: