It's a Sat' Nite guys..!! Have a nice weekend!!
Yup, Malem Minggu neh guys. Pada ngapain aja? Pacaran? Jalan-jalan? Nongkrong? Ngadem di Rumah? Tidur-tiduran di kamar? Nonton Film? Nonton Sinetron? Banyak dah ritual tiap malam minggu, yang katanya orang-orang malem panjang, padahal jumlah jam malem minggu sama aja dengan malemnya hari lain kan?? -_-" Ha5 Well, ga pengen debatin hal itu. Saya punya cerita neh di malem Minggu tepat tanggal 1 September tahun 2012. Tadi pas di jalan, langsung inget pengen share cerita ini di blog. Yay..akhirnya, punya bahan buat nulis. Ha5 Here we go.....................!!
Melem minggu, bosan aja di kostan. Saya kemudian mengajak seorang teman saya untuk windows shopping. Maklum ya, baru tanggal 1, masih tanggal tua untuk ukuran anak kost. Ha5 Eh, rencananya buat windows shopping doang, ternyata jadi shopping beneran. Sebuah flat shoes warna beige akhirnya mengurangi jumlah rupiah di dompet saya. Tapi gpp lah, paling besok-besok ga makan seminggu. Ha5 Then setelah windows shopping, kami pun memutuskan untuk mengisi perut yang kelaperan sebelum balik ke kost. Sebuah tempat makan dengan menu utama Mie Bandung pun jadi pilihan kami. Menu makan kami, sepiring mie goreng dan bihun goreng, ditambah minum segelas juice wortel, juice alpukat dan air es. Kurang lebih 45 menit kami menghabiskan santapan kami malam ini. Alhasil, kami menjadi "tamu" terakhir di tempat itu. Nah, sebelum kami membayar, teman saya yang duduk mengarah ke jalan melihat seorang pria tua yang mendorong sebuah gerobak. Dia pun mengatakan pada saya, membuat saya menoleh melihat pria tua itu. Namun karena agak jauh, kami tidak bisa melihat dengan jelas apa yang terdapat dalam gerobak yang didorongnya. Saat kami melihat pria tua itu, dia pun berhenti dan melihat kami. Masih dengan perasaan bertanya-tanya apa yang ada dalam gerobak tadi, kami pun membayar makanan kami. Saat saya mengantri untuk membayar, saya sempat menoleh ke jalan melihat pria tua itu, dan ternyata dia masih berdiri di sana dan menatap ke arah kami.
Setelah membayar, kami pun keluar dari tempat makan. Ternyata pria tua itu masih berdiri di seberang jalan dan melihat ke arah kami. Karena jarak yang cukup dekat, hanya bersebrangan jalan, kami bisa membaca tulisan yang ada di gerobak pria tua itu.
"BUNGA KERTAS ROMANTIS"
Begitu kira-kira tulisan yang tertera di plank kecil pada gerobaknya. Ternyata pria tua itu menjual bunga-bunga kertas. Setelah membaca, kami pun berjalan meninggalkan pria tua itu yang masih menatap kami. Sambil berjalan, ada sebuah rasa yang mengusik hati saya. Kemudian saya menengok lagi ke belakang, dan ternyata pria tua itu telah mendorong kembali gerobaknya menyusuri jalan. Pikirku, tadi pria itu berhenti karena mengira kami ingin membeli bunga-bunganya.Ternyata, pikiran yang sama juga muncul di benak teman saya. Rasa kasihan yang mengusik, membuat kami memutuskan untuk membeli beberapa tangkai bunga kertas pria tua itu. Kami pun menyeberang jalan, dan menuju pria tua itu.
Dari kejauhan nampak ia tertatih-tatih mendorong gerobak bunga kertasnya. Saat ia semakin dekat, nampak gurat-gurat lelah di wajahnya. Seorang pria tua berumur sekitar 60 tahun, kakinya pincang, menggunakan sepasang kemeja dan celana panjang hitam dengan sebuah topi lusuh, terlihat kepayahan mendorong gerobak bunga kertasnya. Pertanyaan-pertanyaan pun muncul dalam dialog dengan teman saya. Kemana anak-anaknya? Setega itukah membiarkan ayah mereka seperti ini? Dimana rumahnya? Isterinya?
Saat ia berhenti tepat di depan kami, sebuah plank di sisi lain gerobak dengan jelas bisa saya baca.
"BUNGA KERTAS Mbah MIN"
1000/3
Ternyata nama pria tua itu Mbah Min. Kami pun bilang ingin membeli bunga kertasnya. Dengan sigap Mbah Min menyandarkan gerobaknya di sisi trotoar. Sambil menunggu kami memilih bunga kertasnya, Mbah Min duduk melepas letih di trotoar. Gerobaknya berisi kaleng-kaleng biskuit tempat menaruh bunga-bunga kertas. Nampak kaleng-kaleng di bagian atas telah kosong, yang saya artikan karena bunga-bunga kertas telah laku terjual. Di sisi kaleng-kaleng tersebut, ada sebuah cangkir berpenutup yang mungkin saja berisi kopi Mbah Min. Rasa kasihan dan berbagai pertanyaan yang muncul dalam benak saya, membuat saya tidak lagi memilih bunga, sebaliknya ngobrol dengan Mbah Min. Ternyata Mbah Min ga memiliki anak, dan isterinya udah meninggal. Ia tinggal ga jauh dari tempat kost saya. Sayangnya ia ga punya rumah, jadi ia "Mondok". Ya, ga jauh beda lah mondok sama ngekost! Sebenarnya masih banyak yang ingin saya tanyakan, namun Mbah Min memiliki pendengaran yang kurang bagus, so saya kasihan juga jika harus menambah keletihannya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Saya pun kembali memilih bunga kertas untuk dibeli. Bunga itu terbuat dari kertas krep berbagai warna, kemudian ditambahkan lidi yang dililit kertas krep hijau sebagai tangkainya, dan dibungkus plastik transparan.
15 tangkai bunga pun saya putuskan untuk beli. 15 tangkai ini pun dihargai Rp. 5000,-. Teman saya telah membayar duluan. Saat saya akan membayar, uang seribuan saya ga cukup 5.000. Teman saya pun ga punya uang pecahan seribu. Akhirnya saya membayar dengan selembar uang Rp. 10.000,-. Dengan tangan gemetaran Mbah Min menerima uang dari saya. Karena sisi jalan itu tidak terlalu terang, setelah melihat uang yang dia terima, Mbah Min kembali menatap saya. Entah tatapan itu maksudnya apa, saya pun ga ngerti. Tapi dengan spontan saya menjawab,"Kembaliannya ga usah pak". Rasa kasihan mengusik saya, tiba-tiba saya berpikir, tadi harga makanan saya saja lebih dari Rp. 10.000,- apakah Rp. 5000 lebihnya tidak bisa saya berikan? Well, akhirnya kurelakan lebih Rp. 5000 untuk lelahnya pria tua itu mendorong gerobaknya. Dengan wajah sumringah dan tangan gemetaran, dia mengucapkan terima kasih untuk uang yang diterimanya. Saya pun merasa sangat bersyukur, bisa membantu, walaupun saya tahu itu ga seberapa untuk meringankan rasa lelahnya.
Sepanjang jalan pulang, saya masih penasaran dengan sosok Mbah Min. Lokasi tempat tinggalnya yang menurut pengakuannya dekat dengan tempat kost saya, membuat saya mengajak teman saya untuk mengikuti Mbah Min. Yup, saya ingin tahu dimana ia tinggal. Dengan menggerutu dan menyebut saya aneh, teman saya pun setuju "menguntit" Mbah Min Ha5. Sayangnya, saat kami balik mengikuti arah jalannya, ternyata gerobak Mbah Min sedang dikerubutin beberapa pembeli yang sepertinya tersentuh melihat lelahnya pria tua itu mendorong gerobaknya. Akhirnya, usaha kami "menguntit" Mbah Min pun gagal. Ha5 Eh, tapi saya maish berkeinginan untuk mencari informasi tentang sosok Mbah Min. Semoga saja besok-besok dapat infonya ^_^.
Dapet apa dari Mbah Min? Dapet Bunga Kertas Romantis tentunya!! Ha5 Well, saya lebih menghargai orang-orang seperti Mbah Min yang masih berusaha, walaupun lelah, walaupun kepayahan, untuk memperoleh uang. Orang-orang seperti ini masih lebih mulia dari mereka yang cuma bisanya menadah tangan (padahal anggota tubuh lengkap tanpa cacat) dan yang bisanya hanya nyolong. Saat menulis tulisan ini, saya kemudian berpikir, di saat para koruptor bergelimang harta curian dan rampokan milik rakyat, masih ada rakyat-rakyat Indonesia seperti Mbah Min yang hanya mampu menggantungkan hidupnya pada tangkai-tangkai Bunga Kertas. IRONIS SEKALI!!
![]() |
| ~Bunga Kertas Mbah Min~ |

No comments:
Post a Comment