Malem Guys...
lama ga nulis neh...
akhirnya sekarang mau nulis sesuatu...
^___^
Tadi di status FB ku, ku tulis " Merasakan sensasi itu lagi.. deg..deg..deg". Seperti yang ku duga, pasti ada yang mengira status itu tak jauh-jauh dari masalah hati, cinta, perasaan, asmara dan teman-temannya. Dengan berat hati harus kukatakan bahwa semua perkiraan itu salah. Ha5
Kira-kira sensasi apa ya? Penasaran ga guys?
Well, biar ga penasaran. Ku jelaskan saja.. ^^, Sensasi itu adalah perpaduan antara ketegangan, ketakutan, kecemasan dan rasa berdebar-debar yang membuat ku duduk dengan tenang di depan tv, tangan terlipat (posisi berdoa), mulut komat-kamit, dan disertai dengan suhu badan yang berubah dingin khususnya dibagian kaki dan tangan. Ya, sensasi yang selalu kurasakan saat menonton pertandingan Bulutangkis, saat pemain-pemain Indonesia sedang bertanding. Sejak sekian lama sensasi itu tak kurasakan lagi, hari ini kurasakan kembali sensasi itu.
Singkat cerita, dulu aku seorang yang sangat menyukai cabang olahraga itu. Olahraga memukul bulu-bulu bebek!!! Bahkan, dulu pernah pengen jadi pemain bulutangkis. Susi Susanti dan Mia Audina adalah idola ku sejak dahulu. Rambut ku akan ku kuncir seperti rambutnya Susi Susanti, saat jam pelajaran Penjas di sekolah. Selain itu, aku pernah menulis surat untuk Mia Audina di Pelatnas Cipayung (berbekal alamat dari majalah Bobo). Tapi entahlah, apakah surat itu nyampe ke tangan Mia Audina, ataukah ke Mia-mia lainnya, aku tak pernah tahu.
Aku tak tahu pasti sejak kapan aku benar-benar menyukai olahraga ini. Yang aku tahu, aku kemudian senang menggunting potongan-potongan gambar pemain bulutangkis di tabloid Bola papa ku, kemudian menempelkannya dalam sebuah buku tulis. Buku itu pun kemudian menjadi kliping gambar pemain-pemain bulutangkis karya ku. Semua gambar even-even penting bulutangkis terekam dalam buku itu. Mulai dari Thomas Cup dan Uber Cup, All England, Indonesia Open, Sea games, ASEAN games, bahkan Olimpiade pun ada di buku itu. Tapi entah dimana sekarang buku itu berada.
Well, back to that sensation!! Sensasi itu selalu kurasakan setiap menonton pemain-pemain bulutangkis Indonesia bertanding. Kadang ku pikir, yang di depan tv aja sudah begitu sensasinya, bagaimana jika nonton langsung? Mungkin aku akan "mati berdiri" menghadapi sensasi itu. Tempat duduk ku harus paling depan saat nonton pertandingan bulutangkis. Setelah duduk, 2 tangan ku dilipat (posisi berdoa). Suhu tubuh ku kemudian akan berubah semakin dingin, khususnya bagian kaki dan tangan. Kadang disertai keringat. Akan semakin dingin jika, posisi pemain Indonesia terancam kekalahan. Suhu tubuh yang semakin dingin akan mempengaruhi gerakan bibir ku. Tanpa sadar, bibir ku akan komat-kamit seperti sedang membacakan mantra. Ya, aku memang sedang membaca mantra. Mantra DOA agar Indonesia tidak kalah.
Dalam situasi ini, aku seperti terasing, sendiri, tak ada seorang pun, walaupun di sekitar ku ada puluhan orang yang berteriak-teriak memberi semangat untuk pemain Indonesia. Hanya kedua mata ku yang memandang tv dan mulut komat-kamit membacakan doa! Aku tak akan berbicara dan tak bisa diganggu saat sedang mengalami sensasi ini. Karena aku bahkan tak akan sadar ada yang berbicara pada ku. Sensasi ini akan mereda ketika semuanya telah berakhir, entah kalah atau menang. Seringkali hal ini menjadikan ku bahan tertawaan keluarga ku. Kadang papa ku berkata "coba diraba dulu badannya.. jangan-jangan beku". Ha5 Ya, kaki dan tangan ku akan sedingin es.
Meskipun sensasi yang kurasa selalu seperti ini saat menonton pertandingan bulutangkis, aku tak pernah kapok, bahkan selalu menanti-nantikannya. Pernah sekali, pertandingan bulutangkis Piala Thomas dan Uber bertepatan dengan ulangan umum sekolah. DILEMA!! Aku harus belajar untuk ulangan besok, sementara pertandingannya berlangsung pada jam belajar ku. Mama ku tidak mengijinkan ku menonton pertandingan bulutangkis. Aku harus tetap belajar. Hasilnya apa? Mataku saja yang di buku, tapi pikiran ku melayang-layang di depan tv dan telinga ku hanya mendengar teriakan orang-orang. Jika sorakannya senang, berarti Indonesia mendapatkan angka. Jika umpatan yang terdengar, Indonesia kehilangan angka. Keadaan ini tak berlangsung lama, karena akhirnya aku melakukan pemberontakan. Ku katakan pada mama ku "Aku tak bisa, aku harus nonton". Kursi depan pun terisi oleh seorang pecinta olahraga memukul bulu bebek. Sensasi itu pun terasa kembali.
Aku tak pernah mengerti sensasi apa ini. Mengapa aku selalu merasakan sensasi ini. Apakah orang lain juga mengalami yang sama? Aku pikir ini karena ketertarikan ku pada olahraga ini. Ketertarikan ku pada olahraga ini pernah ku utarakan pada mama ku. Saat ia bertanya, "cita-citanya pengen jadi apa ?" Dengan lantang ku jawab, "ingin jadi pemain bulutangkis". Sayangnya, fasilitas klub atau pelatihan bulutangkis di tempat ku saat itu sangat minim. Akhirnya, aku tak pernah bisa menyalurkan keinginan dan bakat ku. Untuk mengurangi kekecewaan ku, papa ku membelikan sepasang raket lengkap dengan netnya. Net dipasang di halaman, dan hampir setiap sore papa ku menjadi lawan sekaligus pelatih amatiran ku. Ha5
Sampai sekarang aku masih menyukai bulutangkis. Hanya saja tak lagi seperti dulu. Mungkin karena sudah tak mungkin aku jadi pemain bulutangkis. Ha5 Ditambah pula sekarang semakin sedikit pertandingan-pertandingan bulutangkis yang disiarkan di TV. Walaupun demikian, "sensasi" itu kurasakan kembali tadi, saat menonton pasangan ganda putera Indonesia bertanding. Ku pikir, sensasi ini mungkin tak akan pernah hilang. Akan terus terjadi saat aku menonton pertandingan bulutangkis. ha5. Tak mengapa, aku bersyukur untuk sensasi ini. ^^,
Met malem guys...
Love Badminton!!


No comments:
Post a Comment