1.2.17

Diskriminasi di Kampung Bule

  Apa sih rasanya kalau kamu dianggap “tak berharga” ? Emang sih kita bukan barang yang harus dilabelkan “harga”, tapi sudah selayaknya kita “dihargai” sebagai manusia dan tidak perlu didiskriminasi. Cerita ini saya alami saat saya terjebak di antara sekumpulan wisatawan asing yang sering kita sebut bule. Malam itu saya menginap di salah satu hostel dan baru saja membayar biaya menginap. Sambil menanti kembalian, saya duduk di tengah kerumunan bule-bule yang lagi rame berbagi cerita tentang Manta Point, Crystal Cave, Komodo Island dan trip-trip lainnya. 
Tiba-tiba dari arah tangga muncul sosok wanita cukup besar dan jauh dari kata langsing. Dengan napas tersengal-sengal langsung menuju ruangan dan merebahkan tubuhnya di sebuah kursi plastik. Serentak beberapa gadis muda yang sedari tadi sibuk menghitung uang dan menulis kwitansi, berdiri dan menghampiri wanita itu. Dari balik kacamatanya dia menebar pandangan ke seluruh sudut ruangan. Bagaikan tarikan magnet, pandangan itu serta merta mengarah pada saya. Saya pun ga ngerti mengapa demikian, namun sepertinya karena ada seorang pria bule yang sedang berdiri di samping saya. Pandangan wanita itu pun diikuti untaian kata-kata dari mulutnya. 
“Kamu berdiri dong, masa tamu  berdiri terus kamu duduk..” 
Saya yang sedikit bingung kemudian menoleh ke kanan, kiri, depan, belakang. Mencari jawaban atas kebingungan itu. Akhirnya saya tatap lagi matanya dan bertanya,
“Saya?”
“Iya, kamu..”, balasnya.
Oh My God!!!  Ingin rasanya saya menghilang dari tempat itu. Sebelum saya sempat menjawab, gadis-gadis di sekeliling wanita itu serentak  menjawab “itu tamu Bu…”.
Oke, saya sadar saya ga berkulit putih,berambut pirang dan berhidung mancung sebagaimana keturunan Kaukasus yang sering kita sebut Bule. Tapi bukan berarti saya ga boleh nginap di hostel kan? Emangnya hanya bule yang bisa bayar? Mmmm okay mungkin saya juga sedikit salah, karena tempat ini namanya Kampung Bule, harusnya saya yang bukan bule tau diri juga. Iya sih.. tapi…sumpah diskriminatif banget tuh pemilik hostel. Mentang-mentang saya bukan bule, saya ga dianggap tamu. Sakit hati sih, tapi emang realita di negara ini kayak gitu. Beberapa kali saya merasa kalau bule selalu mendapat perhatian khusus. Dengan kata lain, orang-orang Indonesia cenderung menganggap dan memandang bule “lebih” dari orang pribumi. Bisa jadi sih, ini warisan penjajahan yang membentuk pola pikir kita kayak gini. Padahal ga dikit koq bule yang lebih “parah” dari orang pribumi.
Balik ke wanita itu, karena sedikit malu, dia kemudian nanya-nanya tentang saya. Sayangnya saya yang udah illfeel dengan kelakuannya tadi, ogah menjawab dan memilih ngobrol dengan bule-bule sesungguhnya di sekitar saya. Jadi pelajaran buat saya sih, kalau kelak punya hostel atau hotel….Amin…jangan diskriminatif pada tamu-tamu. Semua manusia punya hak yang sama untuk menginap di hostel atau hotel selama mampu bayar. Ingat itu, wahai para pemilik hostel dan hotel dimana pun anda berada. Jangan membedakan tamu dari warna kulit, warna mata, jenis rambut, bentuk wajah ataupun bahasa yang digunakan. Bedakanlah dari kesanggupan dia membayar, single room, double room atau dormitory. Sekian.






No comments: