1.3.17

ROMANTISME SANDAL JEPIT

Tadi sore saat melalui jalan paling lurus sedaratan Flores (sejauh yang saya kunjungi ya), tiba-tiba pengen berhenti sejenak, menikmati luasnya hamparan sawah sehabis hujan. Tanah di petak-petak sawah itu masih berlumpur, tunas-tunas padi pun masih belia. Saya duduk ditepi jalan, lalu mengeluarkan senjata andalan untuk mengabadikan momen. 

Di antara sejumlah momen yang berhasil ditangkap, ada satu yang memberi kesan. 




Kembali saat melihat foto ini, tiba-tiba naluri pujangga saya bergelora. Alhasil jadi satu post di IG dengan caption ..“Nyaman itu…saat melangkah bersama mu melewati tanah berlumpur.. menyongsong senja..” dengan salah satu hashtag #romantismesandaljepit. Di beberapa menit kemudian, saya berpikir tentang hal ini.

Sandal jepit  tidak menutup kaki seluruhnya.
Sandal jepit adalah pasangan kaki. Namun berbeda dengan sepatu, sendal jepit tidak diciptakan untuk mengekang kaki. Sendal jepit memberikan ruang yang luas untuk kaki bernapas, terbakar sinar matahari, menikmati basah air hujan, tergores duri semak belukar, bahkan menjadi kotor karena lumpur sawah. Sendal jepit juga memungkinkan orang melihat jari-jari kaki yang cantik dan terawat. Bandingkan dengan sepatu,kaki mungkin akan tetap terjaga bersih, kering dan mulus. Tapi dengan keadaan tertutup tanpa sirkulasi udara yang baik, kaki akan berkeringat, menjadi bau dan bahkan tumbuh jamur. 
Demikian pula dengan hubungan. Hubungan yang romantis adalah hubungan yang mampu memberikan ruang yang luas bagi pasangan untuk bernapas, melakukan aktifitas masing-masing, memiliki kehidupan masing-masing, bahkan memiliki rahasia masing-masing. Pasangan tidak perlu dikekang agar terjaga dan tidak direbut orang. 


Walaupun tidak menutup kaki seluruhnya, sandal jepit tak lepas saat melangkah.
Ya, walaupun tidak mengekang kaki, sandal jepit tak lepas saat melangkah. Sendal jepit didesain dan diciptakan dengan titik-titik tertentu  yang  sesuai dan menyatu dengan kaki. Dengan begitu, sandal jepit tidak akan lepas saat kaki mulai melangkah. Hubungan yang romantis bukanlah hubungan yang mengekang, namun hubungan yang mampu menciptakan titik-titik tertentu yang menyatukan kita dengan pasangan. Walaupun sama-sama sibuk dengan aktifitas, urusan dan kehidupan masing-masing, kita tetap sadar akan keberadaan pasangan kita. Saat hubungan melangkah lebih jauh, kita dan pasangan tetap menyatu dan tak lepas.


Sendal jepit itu sepasang, bukan sebelah. 
Entah apa rasanya melangkah hanya dengan sendal jepit sebelah. Pasti ada yang kurang. Sendal jepit diciptakan sepasang, tidak sebelah. Yang sebelah kiri melengkapi yang kanan dan begitu pun sebaliknya. Hal yang sama berlaku dalam hubungan. Hubungan yang romantis adalah hubungan yang saling melengkapi. Kita melengkapi kekurangan pasangan dengan kelebihan kita dan begitu pun sebaliknya.

Sendal jepit menemani kaki untuk berjalan beriringan
Sendal sebelah kiri menemani kaki kiri dan sebelah kanan menemani kaki kanan. Namun bukan berarti yang kiri mendominasi yang kanan atau sebaliknya. Langkah kaki harus bergantian dan beriringan agar proses berjalan menjadi normal. Bayangkan saja jika hanya sendal dan kaki kiri yang boleh melangkah duluan dan diikuti kaki kanan atau pun sebaliknya. Apakah kita bisa berjalan normal? 
Hubungan yang romantis dan normal adalah hubungan yang tidak mendominasi. Kita dan pasangan sama-sama melangkah beriringan dan bergantian untuk menciptakan harmoni hubungan yang indah. Jika ada yang ingin mendominasi, pasti hubungan menjadi tidak normal dan kehilangan romantismenya.

Sendal Jepit bikin nyaman
Sampai di poin kelima ini masalah “rasa”. Kalau rasanya nyaman ya pasti nyaman, kalau ga, ya ga nyaman. Ah… begitulah kalau soal rasa, relatif.  Bagi saya sandal jepit itu paling nyaman, dibandingkan high heels yang bikin pegel kaki dan susah jalan. Tapi  bagi wanita lain, mungkin kebalikannya. 
Jadi, hubungan yang romantis juga soal rasa. Kalau ga ada rasa bagaimana bisa romantis?? Jadi jangan dipaksakan kalau ga ada rasa. Yang nyaman pasti romantis, yang romantis juga pasti nyaman. 


Ahhh, malem-malem nulis romantisme bikin sedikit baper. Hahahahha


Jadi pengen punya pacar kan??
Iyaaaaaa…
Semoga aja besok nemu di sawah berlumpur.. biar ada yang nemenin liat senja esok hari…
Kalau ga ada pun…sandal jepit saya tetap nyaman..dan romantis…



#romantismesandaljepit

1.2.17

Diskriminasi di Kampung Bule

  Apa sih rasanya kalau kamu dianggap “tak berharga” ? Emang sih kita bukan barang yang harus dilabelkan “harga”, tapi sudah selayaknya kita “dihargai” sebagai manusia dan tidak perlu didiskriminasi. Cerita ini saya alami saat saya terjebak di antara sekumpulan wisatawan asing yang sering kita sebut bule. Malam itu saya menginap di salah satu hostel dan baru saja membayar biaya menginap. Sambil menanti kembalian, saya duduk di tengah kerumunan bule-bule yang lagi rame berbagi cerita tentang Manta Point, Crystal Cave, Komodo Island dan trip-trip lainnya. 
Tiba-tiba dari arah tangga muncul sosok wanita cukup besar dan jauh dari kata langsing. Dengan napas tersengal-sengal langsung menuju ruangan dan merebahkan tubuhnya di sebuah kursi plastik. Serentak beberapa gadis muda yang sedari tadi sibuk menghitung uang dan menulis kwitansi, berdiri dan menghampiri wanita itu. Dari balik kacamatanya dia menebar pandangan ke seluruh sudut ruangan. Bagaikan tarikan magnet, pandangan itu serta merta mengarah pada saya. Saya pun ga ngerti mengapa demikian, namun sepertinya karena ada seorang pria bule yang sedang berdiri di samping saya. Pandangan wanita itu pun diikuti untaian kata-kata dari mulutnya. 
“Kamu berdiri dong, masa tamu  berdiri terus kamu duduk..” 
Saya yang sedikit bingung kemudian menoleh ke kanan, kiri, depan, belakang. Mencari jawaban atas kebingungan itu. Akhirnya saya tatap lagi matanya dan bertanya,
“Saya?”
“Iya, kamu..”, balasnya.
Oh My God!!!  Ingin rasanya saya menghilang dari tempat itu. Sebelum saya sempat menjawab, gadis-gadis di sekeliling wanita itu serentak  menjawab “itu tamu Bu…”.
Oke, saya sadar saya ga berkulit putih,berambut pirang dan berhidung mancung sebagaimana keturunan Kaukasus yang sering kita sebut Bule. Tapi bukan berarti saya ga boleh nginap di hostel kan? Emangnya hanya bule yang bisa bayar? Mmmm okay mungkin saya juga sedikit salah, karena tempat ini namanya Kampung Bule, harusnya saya yang bukan bule tau diri juga. Iya sih.. tapi…sumpah diskriminatif banget tuh pemilik hostel. Mentang-mentang saya bukan bule, saya ga dianggap tamu. Sakit hati sih, tapi emang realita di negara ini kayak gitu. Beberapa kali saya merasa kalau bule selalu mendapat perhatian khusus. Dengan kata lain, orang-orang Indonesia cenderung menganggap dan memandang bule “lebih” dari orang pribumi. Bisa jadi sih, ini warisan penjajahan yang membentuk pola pikir kita kayak gini. Padahal ga dikit koq bule yang lebih “parah” dari orang pribumi.
Balik ke wanita itu, karena sedikit malu, dia kemudian nanya-nanya tentang saya. Sayangnya saya yang udah illfeel dengan kelakuannya tadi, ogah menjawab dan memilih ngobrol dengan bule-bule sesungguhnya di sekitar saya. Jadi pelajaran buat saya sih, kalau kelak punya hostel atau hotel….Amin…jangan diskriminatif pada tamu-tamu. Semua manusia punya hak yang sama untuk menginap di hostel atau hotel selama mampu bayar. Ingat itu, wahai para pemilik hostel dan hotel dimana pun anda berada. Jangan membedakan tamu dari warna kulit, warna mata, jenis rambut, bentuk wajah ataupun bahasa yang digunakan. Bedakanlah dari kesanggupan dia membayar, single room, double room atau dormitory. Sekian.