17 Agustus 2015
70 Tahun
sudah Indonesia merdeka..
Tapi sampai di detik
17 ini, aku masih terjajah..
Terjajah
perasaan sendiri..
Bodoh?
Sepertinya begitu..
Sebentar..
Ku
ingat 17 Agustus di tahun kemarin..
Ah..
bunga-bunga asmara merah putih sedang bermekaran di hati ku..
Kuncup-kuncupnya
mulai tumbuh.. perlahan..tapi pasti..
Sang merah putih
nampak berkibar indah..
Di ujung
tiang hati ku pun.. kasih itu kau kibarkan..
Indah..
nampak kokoh di ujung sana..
Kemudian..
sepertinya aku keliru..
Mungkin aku
salah membaca taktik..atau aku salah membuat langkah..
Ku akui..aku
pejuang muda.. pengalaman perang ku kurang..
Darah muda
ku membuat ku bergelora..
Gelisah..Gegabah..Tak
Sabar..
Dengan
emosi.. ingin ku raih kemerdekaan ku..
Kemerdekaan
ku memiliki mu..
Tapi..
Kau pergi..
tinggalkan pejuang muda ini..
Gelisah..
Kuncup-kuncup
merah putih di hatinya mulai mengering..
Satu-persatu
mahkotanya gugur jatuh ke tanah..
Kau
berlalu..tanpa kata terucap..
Seakan-akan
menghilang dalam pekatnya debu perang..
Dan pejuang muda ini..masih dengan perasaan yang
berdarah..
Terseok-seok
mencari perlindungan..
Berusaha
bangkit..meskipun sakit..
Berjuang
untuk tetap hidup..
Hei, Kau
Penjajah hati ku..
Kau
yang 17 Agustus tahun kemarin ku sebut
kekasih..
Mengapa kau
kembali?
Dengan
seribu satu alasan kau datang lagi pada ku..
Ingin
rasanya ku teriak di hadapan mu..
“Tak ingatkah kau darah yang kau tumpahkan
dari luka hati ini?”
Sepertinya kau
tak ingat.. bahkan kau mungkin tak tahu..
“Apakah kau tak sadar semua yang kau lakukan
mengoyak lagi luka ini?”
“Harusnya kau tak perlu kembali, wahai
kekasih penjajah hati ku..”
Tapi kenapa
kau kembali?
Tunggu..ingin
ku ingat walau perih..
“Kenapa ga lurusin rambut saja? Pasti lebih
bagus kalau lurus”
“Ah males, ga suka rambut lurus”
Dua minggu
kemudian kutu pun akan terpeleset saking lurusnya rambut wanita ini..
Dia ingin
nantinya sang kekasih senang dengan penampilan sesuai keinginan sang kekasih..
“Sepertinya ini lebih cocok untuk kekasih ku.
Dia pernah bilang sesuai tes bakat minat, dia cocok jadi motivator. Ku tulis
saja namanya.”
Penampilan
baru..dan hadiah kecil itu.. demi bertemu kau penjajah hati ku..
Tapi..
Yang tersisa
hanya air mata saat ku melangkah di kota seribu pintu itu..
Pejuang muda
ini kau tikam, wahai kekasih penjajah hati..
Tepat di
kuncup-kuncup merah putih yang mulai bermekaran..
Ya..
berdarah..
Lalu..
“Kau bilang dia sahabat dekat, yang ada saat
kau down”.
Ya.. aku..
pejuang muda ini memang tak pernah berjuang di sisi mu..
Bukan tak
ingin..
tapi apa
daya ku yang tak pernah punya kesempatan itu..
Mengemis-ngemis
kesempatan itu pada mu?
Berulang kali
ku lakukan..
Bukan sekali
ku minta bertemu..
Apa jawab mu?
Dia yang kau
temui berulang kali..
Aku bilang
cemburu.. kau menertawai ku..
Kata mu..tak
usah mengasihani diri sendiri..
Andai saja
kau ingin mengerti sedikit perasaan ini..
Aduh..
Luka ini terasa
perih..
Aku..
pejuang muda ini.. akhirnya mulai kalah..
Aku mulai
berdamai dengan kenyataan..
Bahwa perang
ini tak akan bisa kumenangkan..
Tapi tahukah
kau kekasih penjajah hati ku?..
Ku akui..
kuncup-kuncup merah putih itu mungkin kehilangan mahkotanya..
Tapi akarnya
tertancap dalam.. bahkan terlalu dalam..
Bagian hidup
ku yang kau beri makna.. terlalu erat menggenggam mu..
Mengisi
semua sisi hati..
Tak bersisa
untuk mereka yang lain..Mereka yang bahkan ingin membantu ku berjuang..
Ingin
rasanya aku marah.. tapi aku tak mampu..
Ingin
rasanya ku membenci mu..tapi aku tak bisa..
“Kirimlah foto-foto mu”
“Aku tak akan kirim foto. Kalau mau foto,
ketemu dulu.”
“Ya nanti ketemu, kirim foto dulu.”
“Ga mau.”
Tapi..
akhirnya ku kirim kan?
Bukan
sekali.. berulangkali..
Walau dengan
omelan..walau dengan nada protes..
Bahkan walau
tanpa pertemuan..
Kenapa?
Untuk berjuang, ego pribadi ini harus diturunkan dari takhtanya..
Wahai
kekasih penjajah hati, apakah kau mengerti semua yang kulakukan?
Aku sadar.. mungkin
semua yang ku lakukan terlalu sederhana..
Mungkin terlalu biasa untuk menunjukkan rasa sayang ku
pada mu..
Tapi
ketahuilah..
Di antara
setiap untaian protes ku..
Di antara
setiap nada-nada amarah ku..
Di antara
setiap detik diam ku..
Ada sepotong
hati kecil yang pernah kau tikam.. tapi tak pernah berhenti mendoakan mu..
Ya.. sampai
di detik 17 Agustus 2015..
Aku masih
terjajah perasaan ini..
Walau
perih..tapi aku tak sanggup membebaskan diri ku..
Cinta ini
membutakan mu, kata Rahelita.
Tuhan,
biasanya setiap tanggal 17 Agustus..
Hari
Kemerdekaan Indonesia..
Presiden RI,
memberikan grasi bagi para tahanan..
Bolehkah di
17 Agustus tahun ini, ku harapkan grasi dari Engkau?
Jika boleh..
berikanlah pejuang muda ini hati yang baru..
Tanpa luka
menganga yang berdarah atau pun bekas tikaman kekasih penjajah hatinya..
Berilah hati
yang penuh ketulusan...
Ketulusan untuk
menerima semua yang Engkau kerjakan
dalam hidupnya..
Ketulusan
untuk tidak memaksa kehendaknya dalam kehendak Mu..
Ketulusan
untuk menerima semua yang Kau berikan..
Dan melepas
semua yang Engkau ambil kembali..
Tuhan, ku
titipkan perasaan ini kepada Mu..
Aku belum menyerah..Aku
berserah..
Tapi..Kalaupun
kehendak Mu aku harus mengalah..
Sekali
lagi..berikan aku hati yang tulus..
Jangan lupa
siapkan Damai Sejahtera Mu, Tuhan..
Agar tak ada
lagi hati yang berdarah dan terluka..
Doa ku..
berikanlah kebahagiaan bagi Kekasih
Penjajah Hati ku..
Dia berhak
bahagia, Tuhan.
Dan.. aku
juga..pejuang muda ini.
Diberkatilah Indonesia. Berikanlah hati
yang baru bagi pemimpin-pemimpin Bangsa
dan bagi seluruh warga negara Indonesia, ya Tuhan. Hati yang bersih dari
korupsi, hati yang bersih dari mementingkan kepentingan sendiri, hati yang
tulus bagi kemajuan bangsa, hati yang tulus bagi kesejahteraan rakyat, dan yang
utama hati yang tulus bagi Kemuliaan Nama Mu.
Dirgahayu ke-70 Republik Indonesia. Jayalah Bangsa ku, Jayalah Negara ku,
Demi Hormat dan Kemuliaan nama Tuhan. Amin. Ayo kerja!!