**
"Aku
boleh bercerita?"
"Boleh,
ceritalah! Aku mungkin tak bisa mendengarkan mu setiap hari, tapi saat aku bisa
mendengarkan mu, ceritalah!
"Aku
hanya ingin menceritakan semuanya. Semua tentang kamu dan perasaan ku yang tak
pernah terkatakan"
"Ceritalah!"
"Pernahkah
kau tahu kalau kau punya cerita sendiri di hidup ku?"
"Aku
tak pernah tahu. Kenapa tak kau katakan?"
"Aku
takut!"
"Takut
apa?"
"Takut
rasa ini semakin dalam."
"Lalu
kenapa jika rasa itu semakin dalam?"
"Jika
rasa ini semakin dalam, jika harapan ini semakin besar, dan jika ternyata
kenyataannya tak sejalan, maka aku akan terluka."
"Aku
tak ingin melukai mu! Tapi, aku tak bisa. Aku benar-benar tak bisa."
"Aku
tak pernah ingin memaksa mu. Menyayangi mu dengan ketulusan berarti membiarkan
mu bahagia, meski bukan bersama ku. Aku tahu, aku mengerti dan aku sadar,
aku hadir di antara kau dan dirinya. Aku hadir dalam sebuah ruang kosong akibat
kebosanan dan kejenuhan lamanya membina hubungan tanpa kepastian. Aku hadir di
saat kau letih menunggu, jenuh berpikir dan lelah menghadapi semua keegoisan
memadu kasih. Dalam rentang waktu ini, tak ada yang salah di antara kita
berdua. Kita hanya dipertemukan dalam momen yang tidak tepat. Entah kebetulan
atau takdir, kesempatanlah yang mengijinkan kita memulai cerita ini."
"Kamu
menyesalinya?"
"Tidak.
Tidak sedikit pun. Ingatkah kau kata-kata ini, A woman needs a good guy who help
her to laugh even when she thinks she'll never smile again? Tulisan
yang ku kutip dari sebuah socmed dan ku kirimkan melalui sms kepada mu, dan kau
terus bertanya apa artinya. Artinya, seorang
wanita membutuhkan seorang lelaki baik yang membantunya tertawa di saat
dia berpikir dia tak akan pernah tersenyum lagi. Aku boleh
jujur?"
"Jujurlah!"
"Bagi
ku, kau mampu menjadi lelaki baik itu. Kau memberi ku tawa di saat aku berpikir
aku tak bisa tersenyum lagi. Ingatkah kau kita sering tertawa bersama?
Menceritakan hal-hal bodoh yang pernah kita lakukan, kemudian mencemooh satu
sama lain, dan menertawai cemoohan-cemoohan itu. Perut Karung, Udin, Unyil,
muka bantal, ayu ting-ting, buyan. bengak, lolo, autis dan sapaan-sapaan aneh
lainnya yang mewarnai percakapan-percakapan tengah malam kita. Ingatkah kau
tembok berlin yang di china? ingatkah kau bulan oktober itu bulan 8? ingatkah
kau tidak boleh lupa menyebutkan nasi jika ku tanya kamu makan apa tadi?
ingatkah kau menjawab "nanya" jika ku tanya "siapa" untuk
setiap pernyataan mu? Aku masih ingat jika kau bertanya "udah lama?"
iya, udah lama gila!! Aku masih ingat juga saat kau mencemooh wajah ku yang
hancur. Banyak cerita yang bisa kita ceritakan. Mulai dari masa kecil kita,
kebiasaan-kebiasaan kita, nonton film, main game, dan masih banyak hal lain
yang bisa diceritakan. Kita bisa bercerita sampai 2 atau 3 jam kan?
“Kenapa
kamu masih mengingat semua detil percakapan kita?”
“Aku
tak berusaha menghafal semua itu, tapi aku juga tak bisa melupakannya”
“Kenapa?
Kita hanya dua orang asing yang belum pernah bertemu.”
“Entahlah.
Aku juga tak mengerti. Padahal kita jarang bercerita. Jika rindu bercerita
dengan mu, aku harus menahan rasa rindu itu selama 2 minggu. Tapi mungkin
itulah yang membuat ku menikmati saat-saat merindukan mu.”
“Kau
pernah merindukan ku?”
“Bukankah
pernah ku katakan, aku merindukan mu?”
“Ku
pikir hanya gombalan semata. Bukankah kau pandai menggombal?”
“Aku
bukan seseorang yang pandai menggombal. Aku tak mengerti bagaimana harus jujur
mengatakan perasaan ini pada mu. Terkadang juga aku merasa malu mengungkapkan
perasaan ku pada seorang lelaki milik orang lain. Jadi saat rasa ini tak
tertahankan.. ku katakan lewat candaan dan gombalan ku. Aku tak berharap kamu
akan mengerti perasaan ini, cukup mengungkapkannya mampu membuat ku bernapas
lega.”
“Bukannya
kamu tak tahu malu?”
“Iyaaaaaaaaaaaaa...
aku tak tahu malu.. tapi aku tahu diri!!”
“Hahahahahhahaha.”
“Ih..
jahatttttttttttttttttt”
“Aku
gak pernah bilang aku lelaki yang baik.”
“Aku
juga ga bilang kamu baik. Kamu sering ga peduli kalau aku marah..kamu sering
menghina aku.. kamu sering mencemooh ku..”
“Itu
kan bercanda... tapi kenapa kamu tetap mau bercerita dan tertawa bersama ku?”
“Karena
kau saat ini yang sanggup membuat ku tertawa lepas, meskipun beban di pundak
terasa berat. Ada satu hal yang belum pernah ku katakan pada mu.”
“Apa?”
“Saat
mengenal mu.. bercerita.. tertawa.. dan bersama mu.. serasa memiliki lagi
lelaki itu. Lelaki terbaik yang pernah ada dalam hidupku.”
“Ooo..
jadi karena aku mirip mantan mu? Makanya kau nyaman bersama ku?”
“Lelaki
itu kupanggil Papa! Saat aku menemukan mu.. saat itu pula kutemukan sosok
dia yang kupanggil Papa. Emosian...egois..gak sabaran...ga peduli sama omongan
orang.. ga mau kalah.. dan satu yang paling identik...”
“Apa?”
“Saat
kau bilang.. kalau sakit, malas ke dokter.. saat itu pula bayangan papa dengan
jelas terlintas di benak ku.”
“Koq
kayaknya sifat-sifat negatif semua?”
“Merasa
nyaman dengan semua kekurangan mu, saat ini menyenangkan bagi ku. Klise bukan?
Tapi itulah yang sedang ku rasakan.”
“Saat
ini mungkin begitu, bersabarlah hingga kau merasa bosan dengan semua sifat ku
itu.”
“Hanya
ada dua kemungkinan saat ini... aku akan merasa bosan dengan semua sifat itu,
ataukah aku akan semakin dalam menikmati semua sifat mu itu.”
“Kamu akan
menjadi yang mana?”
“Sepertinya saat
ini mengarah ke kecenderungan yang kedua.”
“Yakin?”
“Aku
yakin..bahkan semakin yakin jika keadaan terus begini.. aku akan terluka lagi.”
“Maafkan aku..
sedikitpun tak ingin melukai mu..”
“Kau memang tak
ingin... tapi kau sedang melukai ku di luar kesadaran mu..”
“Jadi aku harus
apa?”
“Tak perlu
berbuat apa-apa...cukup biarkan aku menikmati perih ini. Sebenarnya aku takut
terluka lagi.. tapi aku tak kuasa melepaskan semua tentang kamu.. apakah aku
punya kesempatan memiliki mu?”
“Entahlah...
hanya waktu yang akan menjawabnya... kita tak pernah tahu hari esok seperti apa
bukan?”
“Iya...kita tak
pernah tahu...butuh kesabaran untuk mengetahui apa yang akan terjadi dengan
hari esok..”
“Bersabarlah!!”
“Tertawalah
bersama ku!”
“Ok. Ada
tebak-tebakan.. jawab ya.. sebutkan 10 buah yang diawali huruf n!!”
“Nangka..nenas..nangka
busuk..nenas busuk..mmmmmmmmmmm....”
“Baru 4..harus
10!!”
“Ga tau
lagi...jawablah!!”
“Beneran gak tau?
Jawabannya.. nenas, nangka, nunian, napel, neruk, nangga, nanggis, nelon,
nemangka,nanggur.”
“Koq?”
“Coba suruh orang
berbibir sumbing sebutkan semua nama buah.”
“Ahhhhhhhhhh...
hahahahhaa iya juga sih..apalagi?”
“Kenapa anak
anjing sama anak kucing gak bisa akur?”
“Ya karena mereka
musuh bebuyutan..”
“Salah!!”
“Lalu??”
“Jawablah
dulu..masa gitu aja menyerah..”
“Jawablah... ku
mohon!!”
“Kenapa anak
anjing sama anak kucing gak bisa akur? Ya, namanya juga anak-anak.”
“hahahhahhahha...
buyan!!”
“hahahahha...
giliran kamu lah..”
“Apa yang
mengakibatkan Jakarta kebanjiran?”
“mmmmmmmmmmmmm....
PR ya... besok baru ku jawab...!!”
“Gak bisa!! Tadi
aku dituntut harus dijawab sekarang..kenapa kamu bisa jadiin PR?”
“Aku gak nyuruh
kamu harus jawab sekarang..!! Siapa suruh gak minta waktu berpikir?”
“Ah gak adil!”
“Ya terserah!!
Besok baru ku jawab!!”
“Ah gak bisa!!”
“Tidurlah!!”
**
**
“Semuanya telah
berakhir!”
“Maksud mu?”
“Ya begitulah.
Lelah rasanya disakiti terus.”
“Kenapa?”
“mmmmmmmmm....”
“Ya sudah...tak
usah diceritakan...aku tak akan memaksa mu menceritakannya.”
“Biarkanlah...ingin
mengurusi dulu semua hidup ku..nantilah hal itu kupikir kemudian.”
“Jangan sedih
ya!! Jangan menangis!!”
“Aku gak
menangis. Kan ada kamu.”
“Aku jauh..tak
selalu bisa menghibur atau berada di sisi mu.”
“Jarak tak
menjadi masalah!”
“Ah...jangan
PHP-in aku.”
“Apa PHP?”
“Pemberi Harapan
Palsu!!”
“Hahahahha...tak
ada yang tahu hari esok bukan?”
“Iya. Lalu?
Bagaimana keadaannya?”
“Entahlah.”
“Kau tak
menyesal? Kau tak sedih?”
“Kenapa kita
harus membicarakan dirinya? Aku berusaha melupakan dia...kenapa kau ungkit lagi
semua tentang dia?”
“Maafkan aku! Aku
hanya bertanya. Sebenarnya aku tak yakin semudah itu kau akan melupakannya. 4
Tahun bukanlah waktu yang singkat. Banyak kesempatan kalian habiskan dan
nikmati bersama bukan? Kemarin juga kau bilang sudah berakhir. Tapi
kenyataannya kau kembali kan? Tak semudah itu meninggalkan semua kenangan
bersama. Aku tak yakin kau akan dengan mudah melepaskannya. Aku bahkan lebih
yakin, tak lama lagi kalian akan kembali bersama. Kau tak akan bisa
menggantikan kebersamaan 4 tahun, dengan percakapan suara 1 tahun. Tak akan
mungkin! Tapi aku tak akan menyalahkan mu. Jika aku di tempat mu, aku juga tak
akan mungkin dengan mudah melupakan semuanya.
“Bisakah kita tak
usah membicarakannya? Jika kau ingin terus membicarakannya.. aku lebih ingin
tidur saja!”
“Baiklah..
maafkan aku. Mari kita mengganti topik. Apakah malam ini kita bisa tertawa?”
“Aku sedang tak
bisa tertawa!”
“Ayolah..aku akan
membuat mu tertawa.”
“Baiklah! Aku
punya tebakan. Hewan apa yang paling haram?”
“Menurut ajaran
Islam, babi adalah hewan paling haram bukan?”
“Babi itu haram.
Jadi yang paling haram itu apa?”
“Paling Babi?”
“Hahahahhahahahah.”
“Benar kah?”
“Bukan! Ayo
apa..jawablah!”
“Aku tak tahu..”
“Babi itu haram.
Tapi hewan yang paling haram adalah anak babi yang lahir di luar nikah!”
“Haaaaaaaaaaahaaaaaaaaaaaaahaaaaaaaaaaaaaaahaaaaaaaaa...apakah
kau tertawa juga? ”
“Iya aku
tertawa..”
“Terima kasih
sudah tertawa bersama ku! Jangan bersedih ya! Kadang saat kau bersedih..ingin
rasanya memeluk mu.. tapi apa daya tangan tak sampai. Aku jauh dari sisi mu.
Tak banyak hal juga yang dapat kulakukan. Aku hanya bisa mendoakan mu dari
jauh. Semoga doa-doa ku mampu menguatkan mu. Ketahuilah.. walau jauh.. ada
seseorang yang dengan setia menyebut mu dalam doa-doanya. Mari kita tidur..”
“Iya.. Selamat
Malam.”
“Selamat Malam.”
**
“Kenapa tak bisa
tidur? Pasti karena banyak pikiran.”
“Ia banyak yang
harus dipikirkan.”
“Masalah hati?”
“Bukan masalah
hati, masalah banyak-banyak.”
“Butuh orang
untuk mendengarkan?”
“Tak usah.
Bersabar saja, biar waktu yang menjawab!”
“Ya sudah kalau tak
mau menceritakannya. Tak akan ku paksa. Meskipun sebenarnya aku ingin berbagi
semua cerita dengan mu. Aku tahu di pundak itu bebannya berat, ingin rasanya
memikul bersama mu. Tapi aku cukup tahu diri untuk tetap diam di saat seseorang
tak mengijinkan ku memasuki kehidupannya terlalu dalam. Itulah kenapa aku tak
pernah memaksa mu menceritakan sesuatu, jika ku rasa kau tak ingin
menceritakannya. Jadi, tertawakah kita?”
“Aku sedang tak
bisa tertawa.”
“Kenapa sekarang menjadi
semakin sensitif?”
“Siapa?”
“Kamu.”
“Perasaan mu
saja.”
“Ya sudah kalau
itu perasaan ku saja. Maaf.”
“Ayo tidur.”
“Iya. Selamat
Malam.”
**
“Kenapa kau tak
membalas sms ku?”
“Aku balas semua
koq.”
“Iya, setelah aku
sms kedua kali bertanya kemana orangnya kan?”
“Ah perasaan ku,
aku balas semua.”
“Tidak.. kau tak
membalas pesan ku yang pertama.”
“Aku balas koq.”
“Ya sudah, aku
tak ingin berdebat hanya karena sms.”
**
“Tak ada kabar
sama sekali. Tak ada telpon, tak ada sms?”
“Penting ya?”
“Ya sudah kalau tak
penting.”
“Aku Cuma
bercanda. Kenapa jadi sensitif begini?”
“Kamu gak
keliatan sedang bercanda.”
“Ya kalau kamu
bisa melihat, kamu pasti melihat aku senyum sambil mengucapkannya.”
“Iya tapi aku tak
bsia melihat.”
“Aku bercanda.
Kalau gak penting, kenapa aku menjawab telpon kamu?”
“Sudahlah, memang
gak penting juga kan? Gak akan ku telp atau sms lagi. Makasih untuk semuanya.”
“Aku bercanda.”
“Ya sudah, anggap
aja ku jawab telp ini juga bercanda.”
“Aku minta maaf,
jika kata ku itu menyinggung mu. Tak ada maksud apa-apa selain bercanda.”
“Ya sudah, aku
mau mandi.”
“Maafkan aku.”
**
“Maafkan aku!”
“..........................................................”
“Aku minta maaf!”
“.........................................................”
“Mungkin kata ku kasar,
maafkan aku. Ternyata aku baru sadar, aku tak kuasa menahan kesal ku. Mungkin
selama ini semuanya bisa ku tahan. Amarah, kesal, sedih, jengkel dan semuanya
yang kadang tidak kau pedulikan. Entah kenapa belakangan ini tak kuasa menahan
semua rasa itu. Mungkin aku ingin menunjukkannya agar kau peduli pada ku. Aku
ingin kau tahu, aku kesal, aku marah, aku jengkel, aku sedih jika diperlakukan
seperti itu. Meskipun aku sadar betul, aku bukanlah siapa-siapa untuk mu. Aku
hanya ingin kau tahu, aku bisa merasakan semua rasa itu dan aku bisa menahannya
sampai batas tertentu. Kalau aku tak sanggup lagi menahannya, ku harap kau
mengerti. Pernah ku tanyakan pada mu bukan? Kenapa aku sering marah, sering
kesal, sering jengkel pada mu? Dan kau jawab, Cuma kau sendiri yang bisa
menjawabnya. Kutemukan jawabannya, karena rasa ini pada mu semakin dalam!
**
“Apa kabar mu?”
“Aku baik-baik
saja. Kamu?”
“Aku juga
baik-baik saja.”
“Kamu sehat?”
“Iya sehat. Tapi
agak sibuk sekarang. Kamu gak menelpon aku?”
“Aku takut. Tak ingin
mengganggu mu. Lagipula, kamu marah bukan?”
“Kalau marah, aku
tak akan menelpon mu.”
“Ku pikir kamu
marah.”
“Tidak. Hanya
saja aku sedang sibuk sekarang.”
“Kamu ngapain aja
setiap hari?”
“Di rumah aja.”
“Ooo.... Mungkin
hanya kata itu yang bisa ku katakan. Aku tahu, dan aku sangat mengerti, banyak
hal yang menjadi beban mu saat ini. Tapi aku juga mengerti dan tak akan ku
tanyakan, karena tampaknya tak ingin kau ceritakan semua beban itu. Dalam diam
ku, aku mencoba tuk mengerti diri mu dan semua tentang mu. Tapi entahlah,
apakah kau tahu bahwa aku di sini mencoba mengerti, atau kah kau berpikir lain
tentang diam ku. Kenyataannya sekarang, kau semakin dingin terhadap ku.”
**
“Kau tak membalas
pesan ku?”
“Aku sibuk,
bahkan jarang sekali melihat hp.”
“Oooo... ku
telpon juga susah sekali dihubungi.”
“Semalam aku
pulang jam 10, ngantuk, capek dan langsung tidur.”
“Oooo... Aku
rindu! Lama kita tak tertawa. Lama kita tak bercanda.”
“Aku sedang tak
bisa bercanda dan tertawa.”
“Apakah kau bosan
bercerita dengan ku?”
“Aku bosan? Gak
koq.”
“Aku merasa
sepertinya kau sudah bosan bercerita dengan ku. Kau baik-baik saja?”
“Iya. Hanya saja
semakin sibuk. Kerja terus. Capek semua badan ku.”
“Aku ingin
bercerita.”
“Aku sedang tak bisa
bercerita dan tak punya cerita. Nanti telpon lagi ya. Aku mau nelpon dulu.”
“.......................................................................”
**
Saat ini, di
kamar ini, dalam gelapnya malam dan sepinya hati, aku tersadar. Aku terjatuh
semakin dalam. Terjatuh dan terjebak dalam rasa yang semakin hari semakin
menyiksa. Dulu aku sanggup menikmati saat-saat merindukan mu, sekarang aku
hanya sanggup menangisi saat-saat merindukan mu. Entah berapa tetesan air mata
yang telah membasahi pipi ini karena merindukan mu. Aku terluka lagi! Terluka
karena seorang lelaki asing yang tak pernah kutemui. Gila bukan? Iya gila, kata
orang! Kata ku? Tak bisa terkatakan,
hanya bisa di rasakan.
Namun meskipun
menyiksa, entah kenapa tak kuasa ku berlari dari mu. Saat batin tersiksa, ingin rasanya menghapus
semua tentang mu. Tapi, diantara seribu rasa tersiksa, ada seuntai perasaan
kasih yang mampu membawa memori tentang mu kembali dan tenangkan hati ini. Ingin
rasanya mencintai dan menyayangi mu setulus hati. Menemukan mu, membawa asa ku
tentang lelaki tua yang telah pergi itu kembali lagi. Aku dulu tak begitu
menyayangi lelaki tua itu, hingga akhirnya dia pergi dan aku merindukannya.
Kini saat kutemukan dirimu, seolah-olah kutemukan lelaki tua itu lagi. Aku
ingin mencintai dan menyayangi diri mu sebagaimana ingin kulakukan terhadap
lelaki tua itu. Tapi aku mengerti mustahil bagi ku!! Meskipun kau bilang kita
tak pernah tahu hari esok. Aku menyangsikannya.
Kita belum pernah
bertemu. Kita tak pernah tahu kehidupan
masing-masing kita seperti apa. Meskipun banyak hal yang bisa kita ceritakan,
tapi sepertinya ada banyak hal juga yang masih tak bisa kita ceritakan. Aku ingin
menceritakan semuanya padamu, tapi entah kau mau berbagi semuanya dengan ku
atau tidak. Tampaknya kau masih ragu! Tapi aku tak akan memaksakannya. Lalu,
kita beda. Kadang ingin ku benci perbedaan ini. Kenapa yang beda tak mungkin
bersama? Bukankah ada mereka yang mampu hidup bersama dengan perbedaan? Entah
kau ingin ataukah tidak. Aku tak tahu.
Sekarang, banyak
hal yang sedang tak ku mengerti. Satu yang ku mengerti dan ingin ku pahami, kau
sedang berjuang. Berjuang menemukan hidup mu. Tak akan ku halangi. Sekali lagi,
aku ingin mengerti dan memahami semua tentang mu. Bahkan sekalipun ini
menyiksa, aku ingin terus mengerti dan memahami. Saat ini mungkin kau sedang
tak mampu bercerita dan tertawa bersama ku, aku mengerti itu. Saat ini mungkin
kau lebih membutuhkan seseorang yang dekat dengan mu untuk menghibur mu, aku
paham itu. Saat ini kau sedang sibuk
dengan kerjaan mu, aku mengerti itu. Saat ini kau sedang tak bisa membalas
semua pesan ku, aku paham itu. Saat ini kau sedang tak ingin menjawab telpon
ku, aku mengerti itu. Saat ini kau tak ingin menjelaskan pada ku apa yang
sedang kau kerjakan, aku paham itu. Saat ini kau sedang tak bisa memberi ku
perhatian, aku mengerti itu. Saat ini kau sedang memperhatikan orang lain, aku
mengerti itu. Dan sampai saat ini kau tetap tak bisa menyayangi ku, aku paham
itu!!
Tak ingin ku
melangkah pergi. Tapi, aku takut. Aku takut tak mampu lagi mengerti orang lain,
karena semua daya ku hanya untuk mengerti dan pahami diri mu. Ijinkan aku
menepi sebentar. Meninggalkan mu sebentar. Tapi, tetap mengerti dan pahami diri
mu dalam diam ku. Berjuanglah kasih!! Hari esok milik mu!! Kesuksesan di tangan
mu!! Jika akhirnya kau tersadar tak ada aku di sisi mu, tenanglah!! Aku pergi
sebentar, memperjuangkan hidup ku dan memberikan sedikit ketenangan bagi batin
yang tersiksa. Jika kau ingin aku kembali, temuilah aku dan tertawalah bersama
ku. Jika kau tak ingin, aku akan tetap mengerti. Meski raga ini tak bersama mu, ketahuilah,
dalam setiap doa ku,kusebutkan namamu. Mengenal mu, tertawa, bercerita,
bercanda dan terus mengerti serta memahami mu, telah mengajarkan ku bagaimana
MENCINTAIMU DENGAN TULUS. Terima Kasih, yank!
You don’t kiss my
lips, you kiss my soul.