13.9.11

Pray For Ambon

Tadinya pengen segera menutup mata... namun berasa ingin menulis sesuatu... emang keinginan hati tak bisa dielakkan >.<

Beberapa menit yang lalu saat online FB, aq melihat beberapa profpic


Keliatannya emang Ambon lagi perlu didoakan, oleh siapa saja tanpa embel" SARA yang selama ini menjadi momok dalam kerusuhan Ambon 12 tahun lalu. Rasanya sedih, teriris, terluka, jika peristiwa itu harus terulang kembali. Bagaikan luka seorang kekasih yang patah hati, tak ingin luka itu berdarah lagi. 12 tahun yang lalu begitu kelam untuk diingat dan dibayangkan jika harus terulang lagi. Keringat, darah dan air mata dengan mudahnya tercurah di bumi Seribu Pulau.

Nyawa Manusia Hilang Harganya!!
Tak segan-segan aku mengangkat parang dan menghunusnya menembus jantung mu, saudara ku, hanya demi agama dan Tuhan yang ku bela. Tak segan-segan aku melepaskan timah panas menembus otak mu, kerabat ku, hanya karena kita berbeda, aku Islam dan kamu Kristen, aku Kristen dan kamu Islam. Persaudaraan dan Kekerabatan yang selama ini terikat erat dengan tali "Pela Gandong" tak mempan untuk mendinginkan hati ku dan hati mu yang terbakar amarah, hanya karena merasa agama dan Tuhan masing-masing kita dihina dan dilecehkan!! Amarah yang meluap pun menjadikan aku tak mengenal kamu hai saudara ku. Kamu bukan saudara ku!! kamu bukan kerabat ku!! Bahkan kamu bukan manusia yang sama dengan aku, karena agama kita berbeda!! Dengan gampangnya aku bisa berkata
"Membunuh mu, menghancurkan mu, memusnahkan mu adalah sesuatu yang Halal, Kudus, Tak Berdosa bahkan yang menyenangkan hati Tuhan ku."

Benarkah Tuhan senang? Ataukah Dia menangis
melihat perbuatanku dan perbuatanmu?
Pikirkanlah, apakah Tuhan benar-benar ingin dibela, bahkan jika bayarannya berupa pertumpahan darah manusia? Apakah Tuhan begitu egois dan angkuhnya sampai-sampai untuk tetap mempertahankan namaNya, nyawa manusia menjadi tak berharga dan bernilai sama sekali? Apakah sebagai pencipta yang penuh kemurahan dan kasih, Tuhan rela membiarkan ciptaannya saling menghancurkan hanya karena membela namaNya dan agama yang mengajarkan tentang Dia??

Tuhan tak seegois dan sekejam itu, saudara ku!! Itulah keegoisan dan kekejaman kemanusiaan kita!! Keegoisan dan kekejaman orang-orang besar yang menjadi dalang dalam pentasan wayang "Kerusuhan Maluku". Keegoisan dan kekejaman orang-orang berduit yang punya tujuan-tujuan khusus. Keegoisan dan kekejaman para provokator yang dengan semangat membakar amarah aku dan kamu demi uang. Keegoisan dan kekejaman mereka semua yang iri dan cemburu akan indahnya perdamaian dan kekeluargaan antara Salam dan Sarani di Negeri Seribu Pulau.

Sayangnya, kita dengan mudah terprovokasi, terbakar amarah, tersulut kebencian, yang dalam sekejap mata pun menyulut api, membakar rumah kita, membakar Masjid kita, membakar Gereja kita, membakar sekolah kita, membakar kampus kita, bahkan membakar tubuh-tubuh manusia tak berdosa. Kita kehilangan segalanya, harta benda, kesempatan untuk sekolah, kuliah, bekerja, bahkan kehilangan nyawa mereka yang kita cintai dan sayangi. Hidup begitu mencekam!! Ancaman kematian begitu dekat tatkala bunyi tiang listrik dan teriakan memecah kesunyian malam. Makan tak teratur, tidur tak tenang, bayangan amarah dan kebencian selalu menghantui. Ambon Manise tak lagi manis. Hambar, bahkan kepahitan yang terasa!!

12 Tahun sudah peristiwa itu berlalu!!
Saat ini, Ambon Manise kembali membangun. Menata kehidupan yang lebih baik. Aku dan kamu mulai sadar betapa bodohnya kita dipermainkan oleh keegoisan dan kekejaman orang-orang besar. Betapa bodohnya kita dikorbankan karena keegoisan dan kekejaman mereka yang membutuhkan duit. Terlalu lama kita menderita. Terlalu lama kita terpuruk. Terlalu lama kita tertinggal. Terlalu banyak keringat, darah dan air mata yang tertumpah. Terlalu banyak nyawa-nyawa tak berdosa yang hilang.

Kini saatnya kita berhenti. Menoleh ke belakang, melihat penderitaan dan masa lalu kita sebagai sebuah kenangan, dan kembali melangkah. Melangkah menyongsong masa depan yang lebih baik bagi Ambon ku dan Ambon mu. Jangan lagi ada dendam dan kebencian, jangan lagi mau dibodoh-bodohi, jangan lagi terprovokasi, jangan lagi tersulut amarah, jangan lagi mengangkat parang dan senjata. Angkatlah tangan untuk berjabat dan berpelukan, angkatlah wajah dan berikan senyuman, angkatlah suara dan berkata
"Hanya agama kita yang berbeda, tapi Tuhan dan Allah kita satu. Kita sama sebagai manusia yang lahir dan hidup di satu tanah tumpah darah. Aku bukan musuh mu dan kamu bukan musuh ku. Aku adalah saudara mu dan kamu adalah saudara ku yang sama-sama berhak hidup dengan damai di tanah kelahiran.

Dari tanah rantau, jauh dari basudara dong samua, beta berdoa for Ambon. Beta berdoa biar kedamaian akang slalu ada di samua pung hati, dan akang slalu menjadi bagian dari samua orang pung hidop. Sampe jua basudara, jang ada darah deng aer mata yang tumpah lai. Mari katong bangun Ambon yang lebe bae, yang bisa jadi berkat for katong samua pung hidop. Biar b deng ale pung agama seng sama, maar dalam katong pung tubuh mengalir darah yang sama,
sebagai orang Ambon!!



"Pray for Ambon"



Seberkas memori dari tanah rantau!!

No comments: